Posts Tagged ‘padi’

FILSAFAT PADI

Muhammad Hatta

Orang bijak sering berujar, tirulah ilmu padi. Kian berisi, kian merunduk. Maksud dari pesan bijak itu adalah jika kita memiliki ilmu janganlah sombong, tetapi sebaliknya hendaklah semakin bijaksana. Semakin banyak pengetahuan dan ilmu yang kita miliki hendaknya semakin arif dan bijak pula kita. Demikianlah pesan tadi yang mengandung makna filsafat yang mendalam.

Mengapa pesan tersebut dikatakan mengandung nilai filsafat? Kata filsafat sendiri berarti cinta terhadap kebijaksanaan ataupun cinta akan kearifan. Menurut Bakhtiar (2011) kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophy, yang terdiri dari dua kata: philos dan sophos. Philos berarti cinta dan sophos berarti hikmah atau bijaksana. Dengan demikian, secara harfiah filsafat bermakna cinta bijaksana. Namun, secara lebih luas, filsafat didefinisikan sebagai berpikir secara menyeluruh, mendalam, logis, sistematis, tapi juga spekulatif mengenai hakikat segala sesuatu untuk mencari kebenaran.

Bila diresapi dengan mendalam, maka betapa filsafat mengandung nilai yang sangat luhur dan sangat dibutuhkan di dalam kehidupan manusia. Sebenarnya filsafat sudah banyak berperan dalam kehidupan manusia sejak berabad-abad lalu. Dulu orang percaya pada dewa-dewa penyebab bencana, seperti dewa banjir, dewa gempa, dan dewa-dewa lainnya yang sangat menakutkan. Setelah belajar filsafat kemudian orang tidak takut lagi pada dewa-dewa tersebut, karena sesungguhnya fenomena alam tidak terkait sama sekali dengan dewa. Namun, kini filsafat dirasakan lebih dibutuhkan lagi daripada di masa lalu. Saat ini kebutuhan manusia lebih banyak dan lebih beragam, sehingga untuk memenuhi kebutuhannya, manusia memerlukan lebih banyak ilmu dan pengetahuan dibanding dahulu kala.

Terkait dengan perannya dalam pengembangan ilmu dan pengetahuan. Suriasumantri (1999) menyatakan bahwa filsafat adalah pionir dan peneretas pengetahuan. Meminjam pendapat Will Durant, beliau menyatakan bahwa filsafat dapat diibaratkan sebagai pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infantri. Pasukan infantri ini adalah sebagai pengetahuan yang di antaranya ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan ilmuwan. Sebab setelah itu, ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa filsafat juga berperan sebagai pengawal ilmu dan pengetahuan.

Tanpa dikawal filsafat, selain berguna, ilmu dapat juga menyebabkan bencana dan membawa malapetaka bagi manusia. Banyak contoh sudah terjadi. Bom atom yang dikembangkan atas dasar ilmu telah menjadi monster pembunuh pada perang dunia II. Reaktor nuklir juga tidak sedikit menelan korban. Akhir-akhir ini ada upaya untuk mengkloning manusia, yang bila tidak dikawal oleh pikiran jernih dari kearifan filsafat juga akan membawa bencana bagi kelangsungan hidup manusia itu sendiri. Bakhtiar (2011) menyatakan bahwa ilmu tanpa pengawalan filsafat dapat membawa ilmu tersebut kepada tujuan yang tidak bermanfaat bagi manusia, bahkan bencana.

Bagaimana filsafat mengawal ilmu? tentunya dengan filsafat ilmu. Menurut Bakhtiar (2011) filsafat ilmu adalah kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu. Dasar-dasar ilmu yang dimaksud terdiri dari 1) objek yang ditelaah, 2) metode mendapatkannya, dan 3 tujuannya. Ketiga objek ilmu tersebut dikaji dengan proses berpikir yang mendalam dan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran. Ilmu dan bagian-bagiannya barulah dapat dikatakan benar bila memenuhi tolok ukur kebenaran. Dalam filsafat, ada tiga tolok ukur kebenaran yang bisa dipakai. Pertama, sesuatu itu dapat dikatakan benar bila subjek dan objeknya berkorespondensi (selaras). Kedua, sesuatu itu benar, bila sesuatu itu konsisten (sesuai) dengan yang sebelumnya yang dianggap benar. Ketiga, sesuatu itu benar, bila sesuatu itu bermanfaat bagi manusia.

Secara filsafat, tiga tolok ukur kebenaran ini secara bersama atau sendiri-sendiri dapat digunakan sebagai acuan untuk mencari kebenaran. Tulisan ini mencoba melihat kebenaran pada praktek agronomi penanaman padi oleh para petani. Kebenaran, sebagaimana dijelaskan di atas, bisa dilihat dari tolok ukur kebenaran secara langsung, tetapi juga dapat didekati secara tak langsung dari posisi yang berlawanan, yaitu ketidakbenaran. Dengan kata lain, kita dapat mencari kebenaran dengan melihat sesuatu dari sisi ketidakbenarannya. Oleh karena itu, selanjutnya, ketidakbenaran anggapan dan prilaku akan sering dipakai dalam sajian tentang filsafat bertanam padi nantinya. Pertama sekali, marilah kita lihat terlebih dahulu apa itu padi.

Padi adalah tanaman yang termasuk dalam jenis rumput-rumputan. Akarnya termasuk akar serabut. Batangnya berbuku-buku dan di dalamnya kosong seperti pipet yang digunakan untuk pertukaran gas. Daunnya seperti pita. Bunga jantan dan betina ada dalam satu bunga yang terletak pada malai, yang kemudian menjadi gabah. Ada banyak varietas padi yang ditanam oleh para petani. Ada banyak ragam teknik agronomi yang dipakai serta ada banyak juga ragam pandangan dan anggapan menyangkut dengan padi. Sesuai judul di atas mari kita lihat tanaman ini dari sisi pandang filsafat bertanam padi.

Filsafat bertanam padi yang dimaksud di sini adalah filsafat yang berkenaan dengan cara bercocok tanam padi. Karena filsafat mengandung arti bijak, maka secara sederhana, filsafat bertanam padi adalah penerapan cara bertanam padi secara bijak atau arif; Atau dengan sedikit pengertian filsafat yang lebih luas, adalah bertaman padi secara benar dan bermanfaat. Pertanyaannya apakah sekarang ini para petani kita telah bijak dalam bertanam padinya. Jawabannya bisa beragam, bisa bijak, tidak bijak, belum bijak, atau sudah tidak bijak lagi.

Kalau jawabannya yang terakhir kita ambil maka itu bermakna dulu pernah bijak, tetapi sekarang tidak bijak lagi. Kalau jawabannya belum bijak, maka itu artinya mereka belum tahu bagaimana yang bijak sehingga ada harapan mereka akan jadi bijak manakala mereka sudah diberi tahu bagaimana yang bijak. Yang manapun jawabannya, kita perlu memberi tahu kepada para petani bagaimana seharusnya bertanam padi yang bijak, yang secara filosofi adalah juga benar.

Sesungguhnya petani padi memiliki banyak sekali pengetahuan tentang tanaman padi dan sawahnya. Pengetahuan tersebut diperolehnya dari berbagai sumber. Ada dari penyuluh, orang tua atau kerabatnya, baik secara turun temurun ataupun in situ di tempat dia bertanam. Menurut Suriasumantri (1999) dan Bakhtiar (2011) sumber pengetahuan dapat berasal dari rasio, pengalaman, intuisi, dan wahyu. Sebagian pengetahuan yang mereka miliki adalah benar dan berguna bagi pertumbuhan dan produksi pertanamannya, namun sering juga tidak rasional, bahkan ada juga yang keliru sehingga merugikan pertanaman dan dirinya sendiri.

Penulis mencoba mengangkat beberapa anggapan dan prilaku petani padi yang keliru. Secara filsafat, praktek ini dapat dikatakan tidak benar dan tidak memberikan manfaat apa-apa bagi petani, bahkan cenderung merugikan. Ada selusinan atau bahkan lebih kekeliruan yang terus dipraktekkan para petani di tanah sawahnya.

Kesalahan pertama adalah anggapan bahwa varietas padi baru tidak bagus dan tidak cocok. Akibatnya, para petani enggan menanam varietas padi baru. Anggapan ini penulis dengar sendiri ketika bertugas di Nias, tahun 2006 setelah kejadian gempa dan tsunami 2004. Ketika itu, penulis bersama petugas lainnya, berusaha memperkenalkan varietas Ciherang, karena dari kajian ditemukan bahwa varietas ini sangat menjanjikan. Kemudian memang terbukti bahwa varietas ini dominan ditanam di Indonesia dan memberikan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas sebelumnya (BBPTP, 2005).

Bertolak belakang dengan pendapat di atas, banyak juga petani kita berpandangan bahwa varietas lama (varietas asli daerah) tidak perlu dipertahankan dan dilestarikan keberadaannya. Pandangan ini memang jarang disampaikan dalam bentuk lisan, tetapi indikasinya bisa ditangkap dari kenyataan di lapangan. Sekarang ini, hampir tidak ada lagi petani padi yang menanam varietas asli daerah, kecuali sedikit sekali. Di tempat kelahiran penulis, Kuala Simpang, Aceh Tamiang, varietas asli sudah sangat sulit ditemukan, kalau tidak mau mengatakan sudah punah. Masih teringat, dulu ada yang namanya varietas Si Raup, Si Kuning, Si Kruing, dan Si Pahit. Lalu, apa gunanya varietas ini dilestarikan? Jawabannya adalah sebagai sumber plasma nutfah atau sebagai sumber keragaman genetik untuk keperluan pemuliaan tanaman, khususnya padi. Sebagai contoh pada pemuliaan padi tahan kekeringan, Blum (2011) menyarankan bahwa di antara sumber plasma nutfah yang tersedia, agar plasma nutfah dari tanaman budidaya dijadikan pilihan pertama sebagai sumber genetik. Karena menurut beliau, di dalam plasma nutfah tanaman budidaya, terkandung beragam gen laten yang berguna untuk program pemuliaan tanaman, termasuk tahan kekeringan. Dari segi pemuliaan, penggunaan sumber gen yang berkerabat dekat lebih memungkinkan untuk berhasil dibanding bila menggunakan sumber yang sangat asing.

Dari segi agronomi, pandangan keliru lainnya adalah banyak tanaman, banyak hasil. Ini mungkin mirip dengan pandang “banyak anak, banyak rezeki”. Implikasi buruk dari pandangan ini adalah petani menanam padi dengan jarak tanam yang sangat rapat, ditambah lagi sangat banyak tanaman dalam satu lubang tanam. Sebagai ilustrasi, ada petani yang menanam padi dengan jarak 10 cm x 10 cm dan dalam satu lubang tanam berisi 6 tanaman. Bila dihitung, maka satu hektar sawah berisi 6 juta batang padi, yang juga berasal dari 6 juta butir benih padi. Jumlah ini sebanding dengan 150 kg benih padi dengan asumsi 1000 butir padi sama dengan 25 g. Padahal, secara agronomi, padi dapat ditanam dengan jarak 25 cm x 25 cm (Thakur, 2010) atau serapat-rapatnya 20 cm x 20 cm dan dalam satu lubang cukup satu tanaman saja, sebagaimana pada metode SRI (Thakur et al. 2010). Dengan cara ini, maka satu hektar hanya berisi 160 ribu atau 250 ribu batang saja, yang bila dikonversi ke biji menjadi setara 4,0 kg atau 6,25 kg benih saja. Coba lihat betapa tidak efisiennya petani kita yang menabur benih padi sebanyak 150 kg dari yang seharusnya cukup 4 – 6,25 kg saja untuk satu hektar sawah. Ini baru dilihat dari kebutuhan benih, belum lagi dari segi tenaga kerja dan waktu yang terbuang percuma. Ini sungguh sangat boros dan tidak ekonomis sama sekali.

Anggapan lain yang sama buruknya adalah semakin banyak air yang diberikan, semakin banyak hasil padi. Akibatnya, pemakaian air sangat boros per satuan luas sawah, berikutnya jumlah sawah yang dapat diairi menjadi lebih sempit dari yang seharusnya. Padahal, sebenarnya padi bukanlah murni tanaman air, karena kenyataannya padi memang dapat juga hidup dan berproduksi tinggi pada lahan darat. Dengan demikian, air bukanlah faktor mutlak melainkan sebagai faktor pendukung. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa kesehatan tanah sawah tempat padi di tanam lebih baik bila tidak digenangi terus menerus (Hanafiah et al., 2009). Dengan demikian, sebenarnya padi tidak memerlukan terlalu banyak air seperti yang disangkakan dan justru akan lebih produktif bila air diberikan secara macak dan terputus-putus. Menurut Prisilla et al. (2012), pemberian air irigasi dengan debit yang berubah-ubah sangat penting bukan saja untuk perbaikan sistem irigasi, tetapi juga untuk melindungi sumber air bagi masa depan.

Pemikiran buruk lainnya adalah banyak pupuk, banyak hasil. Pemeo ini sebenarnya tidak produktif dan bahkan sangat merusak lingkungan. Petani kita kadang-kadang sudah keterlaluan dalam menggunakan pupuk, terutama pupuk anorganik. Penulis sendiri pernah menyaksikan sendiri bagaimana mereka memberikan pupuk pada lahan sawahnya, karena tempat tinggal penulis berkebetulan dekat dengan persawahan. Barangkali petani tidak pernah menghitung pemakaian pupuknya, tetapi bila kita hitung, bisa jadi pupuk yang digunakan bisa mencapai dua kali lipat dari yang dianjurkan. Bisa jadi pula dosis anjuran pun sudah terlalu banyak, karena belum ada kajian yang mendalam sebenarnya berapa dosis yang aman untuk produktivitas padi sekaligus kesehatan tanah sawah untuk mendukung perpadian dan persawahan yang berkelanjutan. Menurut Cummings dan Orr (2010) kendatipun aplikasi pupuk N anorganik telah memberikan keuntungan yang nyata pada produksi pangan dan ketahanan pangan dunia dalam jangka pendek, namun ada keprihatinan yang meluas terhadap keberlanjutan penggunaan teknologi ini untuk jangka panjang agar dapat terus memberi makan seluruh populasi dunia yang terus meningkat. Penggunaan pupuk N anorganik secara terus menerus akan menyebabkan perusakan tanah pertanian, antara lain sebagai akibat dari hilangnya bahan organik, pemadatan tanah, peningkatan salinitas, dan pencucian nitrat anorganik.

Bahan organik tidak berfaedah adalah kesalahan lain. Sumber bahan organik tidak dimanfaatkan. Jerami padi tidak dikembalikan ke sawah, melainkan diangkut bersama malai yang dipanen, bahkan sebagiannya lagi dibakar. Barangkali ada kemalasan ikut terlibat di sini. Pernah suatu ketika, penulis berdialog dengan seorang petani padi tentang pemanfaatan jerami sebagai sumber pupuk organik untuk pertanaman padinya. Pertanyaan penulis adalah mengapa petani selalu membakar jerami setelah panen berakhir. Jawabannya cukup sederhana, karena jerami-jerami itu mengganggu jalannya traktor mesin pengolah lahan nantinya. Sebagai catatan, petani memang selalu menumpuk jerami padi di pematang atau di tengah sawah. Tumpukan itulah yang dimaksud mengganggu tadi dan dengan membakarnya tumpukan tersebut langsung hilang dalam semalam. Padahal dengan sedikit rajin, penyerakan jerami ke permukaan lahan sawah dapat juga segera menghilangkan tumpukan yang mengganggu tadi, tanpa harus membakarnya. Membakar jerami sama artinya menghilangkan sumber bahan organik dan yang tersisa hanya abu dengan sedikit bahan mineral. Menyerakkan jerami sama artinya dengan memberikan sumber bahan organik ke dalam tanah, yang sangat berarti bagi kesuburan dan kesehatan tanah, berikut tanaman yang tumbuh di atasnya. Lalu, apa gunanya bahan organik pada tanah?. Funderbug (2001) menyatakan bahwa bahan organik berguna sebagai suplai unsur hara, kapasitas menahan air, agregasi struktrur tanah, dan pencegah erosi. Lebih jauh lagi, sebenarnya bahan organik dalam tanah bisa berfungsi seperti magis, mediator, atau penyangga dari kondisi ekstrem di dalam tanah. Menurut CSIRO (2011) bahan organik merupakan indikator kunci akan kesehatan tanah dan memainkan peran penting pada sejumlah fungsi, seperti biologi, kimia, dan fisik.

Lain jerami, lain lagi pupuk kandang. Bagi sebagian petani padi, pupuk kandang menjadi pantang diberikan pada sawah. Ada anggapan, pupuk kandang yang berupa kotoran ternak merupakan sumber penyakit bagi tanaman padinya. Kesalahan persepsi ini bisa jadi disebabkan oleh salah tindak pada pupuk ini. Waktu pemberian yang tidak tepat mungkin saja penyebab utamanya atau ada pengalaman buruk lain bersama dengan penggunaan pupuk ini. Akibatnya jarang sekali petani padi memupuk tanamannya dengan pupuk kandang. Sebenarnya, pupuk kandang sangat baik diberikan kepada tanaman padi dan kebaikannya sama seperti pada tanaman lainnya. Pupuk kandang banyak mengandung bahan organik, mikroorganisme, dan juga bahan anorganik. Menurut Rusmarkam dan Yowono (2002) pupuk kandang sebagai salah satu sumber bahan organik dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan daya menahan air, meningkatkan kapasitas tukar kation, memperbaiki kehidupan biologi tanah, dan juga meningkatkan daya sangga tanah. Namun demikian, perlu juga dipahami bahwa pupuk kandang juga memiliki sifat yang kurang baik, antara lain memiliki rasio C/N tinggi dalam keadaan basah/mentah. Oleh karenanya, disarankan tidak memberi pupuk kandang dalam keadaan masih mentah pada lahan sawah. Jika pun diberikan mentah hendaknya jauh hari sebelum penanam padi dilakukan.

Yang tidak kalah kelirunya juga ada pada pengendalian hama dan penyakit padi. Menyemprotkan pestisida, terutama insektisida seperti sudah merupakan keharusan pada pertanaman padinya. Ada tidaknya hama dan penyakit di pertanaman padi di sawah tidak menjadi soal yang penting. Akibatnya, residu pestisida di sawah terus terakumulasi. Tidak hanya mencemari tanah sawah saja, air dan sumber air pun ikut tercemar. Banyak mikroorganisme dan makroorganisme yang berguna ikut mati terbunuh oleh pestisida, sehingga kesehatan tanah sawah terus menurun dari tahun ke tahun. Menurut Supardi (2003) pestisida seperti DDT, aldrin, endrin, dan fosfor organik bila mencemari tanah pertanian akan merugikan sebab senyawa tersebut dapat membunuh mikroorganisme yang sangat penting bagi tanah untuk proses dekomposisi dan sintesis senyawa organik dan anorganik. Bila penggunaannya tidak terkontrol, insektisida bisa juga menimbulkan pencemaran lingkungan, seperti air minum, merugikan kesehatan, dan juga mengakibatkan terjadinya resistensi terhadap senyawa tersebut. Selain itu, insektisida ada juga yang bersifat karsinogenik, yaitu senyawa yang bisa menimbulkan terjadinya kanker dan tumor ganas.

Sebenarnya, daftar keliru dari prilaku petani masih bisa ditambah lagi. Namun, kita cukupkan dulu di sini. Barangkali lebih baik bagi kita untuk mencoba mengambil pelajaran daripadanya. Kita berharap apa yang penulis paparkan di atas hanyalah sekadar akibat ketidaktahuan atau kekurangpahaman para petani saja, bukan merupakan bagian dari budaya bangsa kita. Mengapa demikian, karena menurut Ashley Montagu dalam Suriasumantri (1999), kebudayaan mencerminkan tanggapan manusia terhadap kebutuhan dasar hidupnya. Bisa dibayangkan betapa buruknya rupa masyarakat petani padi kita, bila kebutuhan dasarnya banyak yang keliru.

 

DAFRTAR PUSTAKA

Bakhtiar, A. 2011. Filsafat Ilmu. PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta. 266 hlm.

BBPTP. 2005. Ciherang, Varietas yang Mendominasi Pertanaman Padi Saat ini. Informasi Ringkas. Bank Pengetahuan Padi Indonesia. pustaka.litbang. deptan.go.id/bppi/lengkap/bpp08044.pdf

Blum, A. 2011. Genetic Resources for Drought Resistance Plant Breeding for Water-Limited Environments, DOI 10.1007/978-1-4419-7491-4_5, © Springer Science+Business Media, LLC 2011

CSIRO. 2011. Why soil organic matter matters. www.csiro. Au/…/soil-organic-matter.aspx. Diakses 7 November 2012.

Cummings, S. P. and C. Orr. 2010. The Role of Plant Growth Promoting Rhizobacteria in Sustainable and Low-Input Graminaceous Crop Production. In Plant Growth and Health Promoting Bacteria. D.K. Maheshwari (ed.). Microbiology Monographs 18, DOI 10.1007/978-3-642-13612-2_13, Springer-Verlag Berlin Heidelberg.

Funderberg, E. 2001. What does organic matter do in soil? The Samuel Roberts Noble Foundation. www.noble.org/…/soils/organicmatter/. Diakses 7 November 2012.

Hanafiah, A. S., T. Sabrina, dan H. Guchi. 2009. Biologi dan Ekologi Tanah. Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Uviversitas Sumatera Utara. 409 hlm.

Prisilla, L., P. S. V. Rooban, dan L. Arockiam. 2012. A Novel Method for Water irrigation System for paddy fields using ANN. International Journal of Computer Science and Network (IJCSN) Volume 1. http://www.ijcsn.org.

Rosmarkam, A. dan N.W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Penerbit Kanisius. 224 hlm.

Supardi, I. 2003. Lingkungan Hidup Kelestariannya. PT. Alumni, Bandung. 280 hlm.

Suriasumantri, J. S. 1999. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. 384 hlm.

Thakur, A. K., S. Rath, S. Roychowdhury and N. Uphoff. 2010. Comparative Performance of Rice with System of Rice Intensification (SRI) and Conventional Management using Different Plant Spacings. J. Agronomy & Crop Science. 196: 146–159

Thakur, A.K. 2010. Critiquing SRI criticism: beyond skepticism with empiricism. Current Science, Vol. 98, No. 10. 1294 – 1299.

RENCANA PENANAMAN PADI SRI

Saya membaca di banyak rubrik bahwa padi SRI banyak sekali kelebihannya dibandingkan dengan penanaman badi biasa. Saya awalnya tidak begitu yakin, tetapi akhirnya timbul juga rasa penasaran terhadap padi SRI ini. Tahun ini saya akan melakukan percobaan penanaman padi SRI. Ini saya lakukan dengan beberapa tujuan, yaitu 1) ingin memastikan kebenaran informasi mengenai padi SRI ini 2) dengan banyaknya keuntungan dari padi SRI ini, saya ingin melakukan demo agar petani bisa melihat tata cara penanaman padi SRI di lapangan 3) ingin membantu pemerintah mengamankan ketersediaan pangan terutama beras.

Berikut adalah rencana penanaman padi SRI

Pendahuluan
Desa Cot Cut terletak di wilayah Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, lebih kurang 7 km dari Kota Banda Aceh. Sebagian besar penduduk desa ini bermatapencaharian sebagai petani padi.
Bagi masyarakat Desa Cot Cut bertanaman padi sudah merupakan pekerjaan wajib dan menjadi tumpuan hidup sebagian warga. Selain itu, bagi warga desa ini, padi merupakan komoditi yang dapat memberikan rasa aman. Bila padi masih tersedia di rumah, keluarga merasa sangat aman dan nyaman dalam menjalankan kehidupannya.
Pertanian padi di desa ini sebagian besar berada pada lahan sawah yang beririgasi semi teknis dan sebagian lainnya tanah hujan. Luas lahan sawah di desa ini mencapai setengah dari luas desa ini, yaitu sekitar 500 ha. Namun demikian, umumnya, para petani memiliki luas lahan sawah yang terbatas, yaitu antara 2000 m2 sampai 10000 m2. Bahkan, ada juga sebagian petani yang sama sekali tidak memiliki lahan sendiri. Biasanya, petani padi ini menggunakan sawah sewaan, dengan sistem sewa 2 : 1 (dua bagian panen untuk petani dan satu bagian panen untuk pemilik sawah).
Produktivitas sawah di desa ini juga masih tergolong rendah. Rata-rata hasil padi per hektar per musim tanam sekitar 4 – 5 ton. Produktivitas seperti ini telah berlangsung sangat lama tanpa ada tendensi untuk meningkat. Peningkatan produktivitas padi di daerah ini akan sangat sulit terjadi apabila tidak ada inovasi baru.
Hasil pengamatan kami di lapangan mengindikasikan bahwa ada beberapa penyebab mengapa produktivitas padi di daerah ini sulit meningkat. Salah satu penyebab adalah petani tidak mempunyai keberanian dan pengetahuan untuk mengusahakan dengan cara baru. Ada kesan bahwa cara menanam padi tidak bisa diubah sebagaimana yang sekarang ini dilakukan. Pendapat bahwa padi harus ditanam dalam air sangat melekat kuat dipikiran para petani. Padahal kita tahu bahwa padi sebenarnya bukanlah tanaman air.
Masih banyak hal lain yang juga ikut menyebabkan sulitnya meningkatkan produktivitas padi. Antara lain adalah pupuk yang dipakai pada tanaman padi. Hampir semua petani di desa ini menganggap bahwa padi hanya memerlukan pupuk urea. Padahal kita tahu bahwa tanaman padi sebagaimana halnya dengan tanaman lain juga memerlukan unsur hara lainnya dan karenanya memerlukan pemupukan yang seimbang. Hal yang sama juga terjadi terhadap pupuk organik. Pupuk organik dianggap tidak diperlukan. Padahal para ahli menyatakan bahwa pupuk organik sangat bermanfaat baik untuk kesuburan tanah maupun untuk pertumbuhan dan hasil tanaman.
Kondisi ini tentu tidak menguntungkan. Produktivitas sawah di daerah ini menjadi statis dan rendah. Petani tidak dapat meningkatkan pendapatannya sehingga tidak ada perbaikan kesejahteraan. Petani miskin menjadi tetap miskin.
Berdasarkan pengamatan dan analisis ini, kami bermaksud melakukan suatu pengabdian kepada masyarakat di desa ini untuk membuka wawasan petani bagi peningkatan produktivitas tanaman khususnya tanaman padi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan contoh cara bertaman padi alternatif, yaitu bertanam padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification).
Metode SRI ini sangat ramah lingkungan, sangat hemat dalam pemakaian air dan ekonomis dalam penggunaan benih. Menurut beberapa hasil penelitian, hasil yang diperoleh dengan sistem SRI ini sangat tinggi, lebih tinggi daripada dengan metode konvensional biasa. Hasil penelitian oleh Nissanka dan Bandara (2004) menunjukkan bahwa metode SRI memberikan pertumbuhan yang lebih kuat, menghasilkan bulir yang lebih banyak, dan produksi bahan kering yang lebih tinggi daripada meode konvensional biasa. Zheng et al. (2004) menyatakan bahwa sistem SRI dapat menghasilkan padi sampai 12 ton ha-1. Lebih lanjut Ramanujan (2006) menyatakan bahwa sementara metode konvensional hanya memberikan rata-rata hasil antara 2 – 4 ton ha-1, metode SRI dapat menghasilkan rata-rata hasil antara 7 – 8 ton ha-1, bahkan sampai 15 ton ha-1.

Perumusan Masalah
Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, ada beberapa hal yang perlu diperkenalkan pada petani di desa ini. Hal-hal tersebut antara lain teknik penyemaian, pemindahan dan penanaman, pemupukan (organik dan anorganik), pengairan, dan penyiangan. Berikut rumusan masalah petani di desa ini.
1. Petani tidak mengenal dan menguasai teknik budi daya padi alternatif seperti metode SRI yang berbeda dengan metode konvensional. Perbedaan metode SRI terletak pada penyemaian, pemindahan dan penanaman, pemupukan (organik dan anorganik), pengairan, dan penyiangan.
2. Petani belum memiliki wawasan dan pengetahuan yang memadai berkenaan dengan hubungan sebab akibat dari setiap tahapan kegiatan budi daya yang dikerjakan.
3. Petani belum memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekelilingnya yang murah dan ramah lingkungan sebagai alternatif untuk meningkatkan produktivitas lahan dan hasil padi, seperti penggunaan pupuk kandang atau kompos yang banyak terdapat di sekelilingnya.

Tinjauan Pustaka
1. Syarat Tumbuh Padi
Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 m dpl dengan suhu 19 – 27 0C, memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan (Prabowo, 2007). Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500 – 2000 mm (Warintek Bantul, 2008)
Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang berlumpur. Ketebalan lapisan atasnya yang baik adalah antara 18 -22 cm dengan pH antara 4 -7 (Prabowo, 2007; Warintek Bantul, 2008).

2. Metode SRI
SRI pertama sekali dikembangkan di Madagaskar pada tahun 1980an oleh Jesuit dan telah mencetak keberhasilan di Afrika, Amerika Latin, and Asia, termasuk India and China (Haviland, 2005). Metode ini tidak dikenal di luar Madagaskar sampai tahun 1997. Metode SRI memerlukan sedikit air dan sedikit input namun memberikan hasil yang lebih tinggi (The SRI Group, 2006; Ikisan, 2000).
Metode SRI hanya memerlukan setengah jumlah air daripada metode konvensional. Pada metode SRI, tanaman tidak digenangi air tetapi cukup dilembabkan selama pertumbuhan vegetatif. Pada fase akhir vegetatif, lahan sawah cukup digenangi air sedalam 2,5 cm.
Pada metode SRI, diperlukan jumlah benih yang sedikit (5 – 10 kg/hektar) dan juga sedikit tanaman per unit luas lahan (jarak tanam 25 x 25 cm), sementara metode biasa memerlukan 25 – 40 kg per hektar (The SRI Group, 2006; AAK, 1990).
Metode SRI akan menghasilkan tanaman dengan akar yang banyak, anakan yang kuat dan banyak, tidak rebah, malai yang besar, bulir berisi dan bulir yang lebih berat, dan tanaman tahan terhadap hama dan penyakit. Perkembangan anakan padi pada metode ini sangat menonjol. Jumlah 30 – 50 anakan mudah dicapai, bahkan jumlah 100 anakan atau lebih dapat dicapai bila metode SRI diterapkan dengan baik (Ikisan, 2000).

Tujuan Kegiatan
Tujuan pelaksanaan pengabdian ini adalah agar petani memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang memadai mengenai budi daya tanaman padi metode SRI untuk meningkatkan produksi padi yang sekaligus dapat meningkatkan pendapatan petani. Ini dapat dicapai dengan membuat demonstrasi dan memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada petani tentang metode budidaya tanaman padi metode SRI secara langsung di lapangan.

Manfaat Kegiatan
Dari kegiatan ini diharapkan petani akan memperoleh manfaat antara lain:
1. Petani mengenal dan dapat melakukan bercocok tanam padi alternatif dengan benar
2. Petani mengerti dan paham tentang semua tahap kegiatan penanaman padi metode SRI yang dikerjakan.
3. Petani bertambah pendapatannya yang merupakan hasil dari pengurangan input dan penambahan hasil.

Khalayak Sasaran
Sasaran dari pengabdian ini adalah petani padi di Desa Cot Cut yang berlokasi di sekitar bantaran Krueng Aceh. Jumlah petani yang akan dilibatkan langsung sebanyak lima kepala keluarga. Dengan kegiatan ini diharapkan petani akan bertambah wawasan dan pengetahuannya, meningkat produksi padinya, dan bertambah penghasilannya sehingga dapat menjadi contoh teladan bagi petani lainnya di sekitar daerah tersebut.

Metode Penerapan Ipteks
Metode kegiatan yang akan digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah pembuatan demplot, penyuluhan, dan bimbingan penerapan langsung budi daya tanaman padi metode SRI di lapangan. Demplot direncanakan seluas 2000 m2. Penyuluhan dan bimbingan pelaksanaan metode SRI secara rinci akan langsung diperagakan di demplot tersebut.
Garis besar kegiatan teknik budi daya tanaman padi metode SRI adalah sebagai berikut:
1. Pengolahan tanah dilakukan dengan menggunakan traktor, dua kali bajak sedalam 18 cm. Pengolahan tanah dilakukan secara basah.
2. Lahan sawah kemudian digaru dan diratakan.
3. Lahan digenangi selama seminggu untuk menekan pertumbuhan gulma kemudian dikeringkan.
4. Saluran drainase dibuat setiap jarak 5 m dengan lebar 50 cm dan dalam 30 cm.
5. Pupuk kandang diberikan dua minggu sebelum tanam dengan dosis 10 ton ha-1. Pemberiannya dilakukan secara sebar dan kemudian digaru.
6. Dua minggu sebelum tanam, penyemaian benih dipersiapkan. Benih padi sebanyak 2 kg dimasukkan dalam air. Biji padi yang terapung dibuang, sedangkan biji yang tenggelam dipakai.
7. Biji yang terpilih direndam dalam air selama 24 jam. Setelah itu, benih padi tersebut ditiriskan dan dimasukkan dalam karung goni selama dua hari untuk proses perkecambahan.
8. Biji yang telah berkecambah kemudian disemai ditempat persemaian. Tempat persemaian dipersiapkan 7 hari sebelumnya, berupa lahan sawah kering dan diberikan pupuk kandang dengan dosis 2 kg/m2. Luas tempat persemaian sekitar 40 m2 dengan rate 50 g/ m2.
9. Persemaian disiram 2 kali sehari dan setelah 10-12 hari bibit dipindahtanamkan.
10. Penaman dilakukan dengan jarak 25 cm x 25 cm.
11. Pupuk anorganik yang diberikan berupa urea 200 kg/ha, SP36 100 kg/ha, dan KCl 100 kg/ha (AAK, 1990; Departemen Transmigrasi, 1986).
12. Pemupukan pertama dilakukan dua minggu setelah tanam, pupuk kedua diberikan umur empat minggu setelah tanam, dan pupuk ketiga diberikan enam minggu setelah tanam. Pupuk Urea diberikan tiga kali, yaitu setengah dosis pada pemupukan pertama dan masing-masing seperempat dosis pada pemupukan kedua, dan ketiga. Pupuk TSP dan KCl diberikan sekaligus pada pemupukan pertama.
13. Pengairan dilakukan dengan cara memasukkan air ke sawah sampai keadaan macak-macak. Pengairan dilakukan seminggu sekali.
14. Penyiangan gulma dilakukan seminggu sekali.
15. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan bila terlihat gejala serangan hama dan penyakit. Insektisida yang akan dipakai adalah Decis 2,5 EC dan fungisida Dithane M-45.
16. Pemanenan dilakukan pada saat buah padi telah bewarna kuning, sekitar 30 hari setelah keluar bunga.

Rancangan Evaluasi
Tingkat keberhasilan dari kegiatan ini akan dievaluasi dengan menggunakan parameter sebagai berikut.
1. Keikutsertaan dan respons petani selama kegiatan berlangsung.
2. Penambahan pengetahuan dalam teknik budi daya padi metode SRI.
3. Produksi padi yang diperoleh
4. Keinginan petani untuk menerapkan metode SRI dan memanfaatkan sumber bahan yang tersedia di lingkungannya termasuk pupuk kandang.
5. Keinginan petani lain di sekitar untuk mencoba menggunakan metode SRI sebagaimana yang dipakai dalam kegiatan ini.

Lokasi pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah di Desa Cot Cut. Desa ini terletak di wilayah Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, lebih kurang 7 km dari Kota Banda Aceh. Dari Kampus Fakultas Pertanian, Unsyiah, desa ini hanya berjarak sekitar 3 km di sebelah selatan kampus.

Artikel hasil percobaan metode SRI ini dapat anda pesan

 

Caranya Sebagai Berikut:

1. Pesan ke email : hatta_ksg@yahoo.com atau hatta2ksg@gmail.com atau ke HP: 081360016837

2.   Kirim donasi anda minimum Rp 50.000,- ke rekening  No : 1050095020990   Bank Mandiri
3.   Konfirmasikan kiriman anda ke No. Hp 081360016837

Selain artikel ini, anda diperkenankan memilih bonus 2 buah artikel lainnya dari blog ini atau blog: hatta2fp.wordpress

Artikel akan segera dikirim ke alamat email anda
Catatan: pengiriman hanya dengan email