Archive for the ‘Budidaya’ Category

SIRAMAN AIR DINGIN PADA MEDIA MENINGKATKAN PERTUMBUHAN

PENDAHULUAN
Suhu tanah dan suhu udara tempat tanaman tumbuh akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, termasuk juga bibit cabai. Pengaruhnya beragam. Suhu udara yang terlalu rendah menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat. Sebaliknya, suhu yang tinggi yang disertai pengairan kurang akan menghambat suplai unsur hara dan menyebabkan transpirasi tinggi. Menurut Prajnanta (1998) suhu tinggi juga akan merangsang perkembangbiakan hama seperti ulat, thrips, dan aphids. Suhu tinggi yang disertai daya kelembaban yang tinggi akan meningkatkan intensitas serangan bakteri Pseudomonas solanacearum penyebab layu akar serta merangsang perkembangbiakan cendawan dan bakteri. Suhu yang optimal untuk pertumbuhan tanaman cabai adalah 24-28˚C.
Perubahan suhu beberapa derajat saja dapat menyebabkan perubahan yang nyata dalam laju pertumbuhan tanaman. Setiap spesies dan varietas tanaman masing-masing mempunyai suhu kardinal yaitu suhu minimum, optimum dan maksimum. Laju pertumbuhan tanaman akan sangat rendah apabila tanaman dikondisikan di bawah suhu minimum dan di atas suhu maksimum, sedangkan pada kisaran suhu optimum akan diperoleh laju pertumbuhan tanaman yang lebih tinggi (Salisbury dan Ross, 1995).
Suhu banyak mempengaruhi metabolisme tanaman seperti fotosintesis, respirasi, dan fotorespirasi. Peningkatan suhu sampai pada tingkat tertentu akan meningkatkan laju fotosintesis. Namun, peningkatan ini akan segera menurun pada suhu yang sangat tinggi (Gardner et al., 1985). Demikian pula halnya suhu terhadap respirasi.
Laju respirasi meningkat dengan meningkatnya suhu. Namun, apabila dikondisikan di atas suhu maksimum laju respirasi akan mulai menurun. Hal ini disebabkan sebagian enzim-enzim yang berperan akan mulai mengalami denaturasi (Lakitan, 1991). Saitoh et al. (1998) melaporkan bahwa pada tanamam padi, semakin tinggi suhu atmosfir maka semakin tinggi laju respirasi daun dan cabang. Karena hasil bersih fotosintesis merupakan selisih dari aktifitas laju fotosintesis dan respirasi maka suhu secara tidak langsung juga akan menentukan hasil bersih fotosintesis. Gardner et al. (1985) menyatakan juga bahwa suhu yang tinggi akan meningkatkan laju fotorespirasi, yang berarti menurunkan hasil bersih fotosintesis.
Tanaman cabai menghendaki suhu tertentu. Suhu untuk perkecambahan benih paling baik antara 25-30°C. Laju perkecambahan rendah pada suhu yang rendah dan meningkat secara gradual dengan meningkatnya suhu menyerupai kurva reaksi kimia. Suhu untuk pembibitan berada sedikit di bawah suhu perkecambahan. Tanaman di pembibitan membutuhkan suhu yang agak rendah akan tetapi membutuhkan pencahayaan yang terang (Hartmann et al., 1990).
Dari beberapa penelitian tentang suhu ternyata belum terlihat secara jelas bagaimana perbedaan antara pengaruh suhu tanah dengan suhu atmosfir terhadap pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu air penyiraman yang diberikan pada media dan pada daun terhadap pertumbuhan bibit cabai.

HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa pemberian air dingin (12°C) memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan bibit cabai, yaitu terhadap tinggi bibit, diameter batang, luas daun, berat basah bibit, berat basah akar, berat kering bibit, dan berat kering akar. Perlu diketahui bahwa pengaruhnya bisa positif tapi bisa juga negatif. Makanya harus hati-hati.
Secara umum bisa kami katakan bahwa pemberian atau penyemproan air dingin, yaitu air dengan suhu sekitar 12°C pada daun akan sangat menghambat pertumbuhan bibit. Air dingin yang bersuhu 12 °C terlihat mengganggu morfologi daun. Selain berukuran sempit, daun juga terlihat mengkerut. Gangguan morfologi ini bermuara pada tertekannya pertumbuhan perakaran bibit. Menurut Lakitan (1991) daun merupakan bagian tanaman yang sangat mempengaruhi proses metabolisme, seperti fotosintesis, hidrolisis air, fiksasi, reduksi CO2 dan respirasi. Hampir semua proses-peoses tersebut terjadi di dalamnya.
Sebaliknya, penyiraman air dingin pada media tanam akan memberikan pertumbuhan yang baik. Menurut Lakitan (1991), proses-proses fisik dan kimiawi dikendalikan oleh suhu, dan kemudian proses-proses ini mengendalikan reaksi biologi yang berlangsung dalam tanaman. Selain itu, suhu menentukan laju difusi dari gas dan zat cair dalam tanaman. Apabila suhu turun, viskositas air naik, begitu juga untuk gas-gas energi kinetik dari karbodioksida, oksigen dan zat lain berubah sesuai perubahan suhu. Dalam air dingin kelarutan karbodioksida dua dua kali lipat dari kelarutannya dalam air panas. Suhu media yang rendah kemungkinan juga menyebabkan aktivitas mikrobia di dalam media relatif lebih lambat sehingga status nutrisi dan bahan organik berada dalam keadaan lebih stabil. Kondisi yang lebih stabil ini tentu menguntungkan bagi pertumbuhan bibit.

Artikel lebih lengkap dapat anda pesan

Caranya Sebagai Berikut:

1. Pesan ke email : hatta_ksg@yahoo.com atau hatta2ksg@gmail.com atau ke HP: 081360016837

2.   Kirim donasi anda minimum Rp 50.000,- ke rekening  No : 1050095020990   Bank Mandiri
3.   Konfirmasikan kiriman anda ke No. Hp 081360016837

Selain artikel di atas, anda diperkenankan memilih bonus 2 buah artikel lainnya dari blog ini atau blog: hatta2fp.wordpress

Artikel akan segera dikirim ke alamat email anda
Catatan: pengiriman hanya dengan email

Iklan

MEMANFAATKAN KORAN BEKAS SEBAGAI MULSA

PENGANTAR

Pengamatan kami di lapangan menunjukkan bahwa ada banyak penyebab mengapa produksi tanaman, khususnya tanaman cabe belum mencapai sebagaimana diharapkan.  Salah satu penyebab adalah wawasan petani terhadap teknik budidaya cabe masih sangat dangkal. Umumnya petani mengerjakan usahanya dengan cara meniru begitu saja dari orang tuanya atau dari petani lain tanpa mengetahui mengapa sesuatu itu dilakukan.
Contoh nyata di lapangan, bila seorang petani memakai mulsa plastik perak hitam maka petani lain akan meniru memakai mulsa yang demikian. Bila karena satu dan lain sebab mulsa tersebut tidak tersedia misalnya tidak tersedia dana maka petani itu tidak akan mencari penggantinya dan membiarkan tanamannya tanpa mulsa. Kemungkinan lain yang terjadi, petani itu tidak melakukan usaha taninya sampai mulsa tersebut diperoleh atau tersedia modal usaha dalam bentuk dana untuk membeli mulsa tersebut.
Kondisi ini tentu tidak menguntungkan. Produktivitas lahan pertanian di daerah ini menjadi sangat rendah. Banyak lahan-lahan terlihat kosong tanpa ditanami dengan tanaman kecuali rumput. Bilapun ada pertanaman, teknik budidayanya masih sangat konvensional tanpa sentuhan teknologi yang berarti.
Berdasarkan pengamatan dan analisis ini, kami telah melakukan suatu kegiatan untuk membuka wawasan petani bagi peningkatan produktivitas tanaman khususnya tanaman cabe.  Kegiatan ini adalah memberikan contoh penggunaan mulsa alternatif berupa pemanfaatan koran bekas untuk tujuan meningkatkan hasil tanaman cabe.  Koran bekas selain harganya murah bahkan terkadang dapat diperoleh secara cuma-cuma, tetapi juga sangat bermanfaat dalam menjaga kondisi tanah bila diaplikasikan sebagai mulsa.

SYARAT TUMBUH CABE

Tanaman cabe secara umum dapat ditanam di sembarangan tempat dan waktu. Tanama ini dapat di tanam di dataran tinggi ataupun di dataran rendah, di persawahan ataupun di tegalan, di musim kemarau ataupun musim hujan. Kendatipun demikian, tanaman cabe akan tumbuh dan berproduksi dengan baik bila syarat-syarat tertentu dari tempat tumbuhnya terpenuhi (Prajnanta, 2003).
Cabe besar lebih sesuai bila ditanam di daerah kering dan berhawa panas dengan kisaran suhu optimum 24 – 28 oC. Tanaman ini menghendaki tempat terbuka sehingga sinar matahari dapat langsung diterima. Lama penyinaran yang baik antara 10 – 12 jam per hari. Curah hujan yang baik adalah 1500 –2500 mm/tahun (Setiadai, 1988; Prajnanta, 2003).
Hampir semua jenis tanah dapat ditanami cabe mulai dari andosol, latosol, regosol, ultisol hingga grumusol. Namun demikian, tanah yang baik adalah tanah yang berstruktur remah, gembur tidak terlalu liat dan tidak terlalu porous serta kaya akan bahan organik. Derajat keasaman tanah yang baik berkisar antara 5,5 – 6,8 (Harjadi dan Bintoro, 1982; Prajnanta, 2003).

MULSA DAN PERANANNYA

Mulsa dapat didefinisikan sebagai bahan atau material yang sengaja dihamparkan di atas permukaan tanah. Berdasarkan sumber bahan dan cara pembuatannya, maka mulsa dapat dikelompokkan menjadi mulsaa organik, anorganik, dan kimia sintetik (Umboh, 1997).
Mulsa organik berasal terutama dari sisa panen, tanaman pupuk hijau atau limbah hasil kegiatan pertanian lainnya seperti batang jagung, jeramai padi, batang kacang tanah dan kedelai dan lain-lain yang dapat melestarikan produktivitas lahan untuk jangka waktu yan lama (Purwowidodo, 1983). Kertas koran termasuk ke dalam katagori ini.
Mulsa anorganik meliputi semua bahan batuan dalam bentuk dan ukuran tertentu seperti batu kerikil, batu koral, batu bata, pasir kasar, serta batuan lainnya. Bahan mulsa ini lebih banyak digunakan untuk tanaman hias (Umboh, 1997)
Mulsa kimia sintetik menurut Purwowidodo (1983) meliputi semua bahan yang sengaja dibuat khusus untuk mendapatkan pengaruh tertentu jika diperlakukan pada tanah. Jenis bahan ini meliputi bahan-bahan plastik berbentuk lembaran dengan daya tembus sinar yang seragamserta bahan-bahan kimia yang berbentuk emulsi seperti bitumin, aspal, krilium, dan lateks yang berfungsi sebagai soil conditioner.
Mulsa mempunyai terbukti dapat mempertahankan tingkat produktivitas tanah. Mulsa mempunyai beberapa kebaikan antara lain dapat melindungi agregat tanah dari daya rusak butiran hujan, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan, memelihara suhu dan kelembaban tanah, dan mengendalikan pertumbuhan gulma (Purwowidodo, 1983).
Tisdale dan Nelson (1975) menyatakan bahwa pemberian mulsa dapat mempengaruhi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Mulsa dapat memperbaiki tata udara tanah dan meningkatkan pori-pori makro tanah sehingga kegiatan jasad renik dapat lebih baik dan ketersediaan air dapat lebih terjamin bagi tanaman. Mulsa dapat pula mempertahankan kelembaban dan suhu tanah sehingga akar tanaman dapat menyerap unsur hara lebih baik.
Pemberian mulsa khususnya mulsa organik seperti kertas koran juga termasuk salah satu teknik pengawetan tanah. Pemberian mulsa ini selain dapat menambah bahan organik tanah juga dapat mengurangi erosi dan evaporasi, memperbesar porositas tanah sehingga daya infiltrasi air menjadi lebih besar (Sarief, 1985).
Dari berbagai kebaikan yang diberikan kepada tanah, mulsa telah terbukti juga memberikan kebaikan pada pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tanaman yang lebih baik akan memberikan hasil yang lebih memuaskan.

METODE KEGIATAN

Metode kegiatan yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah pembuatan demplot, penyuluhan, dan bimbingan penerapan langsung budidaya tanaman cabe di lapangan. Demplot dibuat seluas 400 m2 atau sebanyak 500 batang cabe. Penyuluhan dan bimbingan pelaksanaan teknik budidaya cabe dan tata cara pemasangan mulsa koran bekas langsung dilaksanakan di demplot tersebut.
Garis besar kegiatan teknik budidaya tanaman cabe dengan mulsa kertas kokran adalah sebagai berikut:
1. Pembibitan dilaksanakan di polibag dengan media tanah dan pupuk kandang 2 : 1 atas dasar volume.
2. Pengolahan tanah dengan menggunkan traktor sebanyak dua kali bajak sedalam 15 cm.
3. Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 110 cm, tinggi 30 cm, dan panjang 15 m. Lebar parit 50 cm.
4. Kapur diberikan bersamaan dengan pengrapian bedengan, dengan dosis 200 g/m2
5. Pupuk kandang diberikan seminggu sebelum tanam, dosis 1 kg/lubang tanam
6. Bibit dipindahtanamkan pada umur 25 hari setelah semai.
7. Penaman dilakukan dengan jarak 50 cm x 50 cm
8. Pemupukan pertama dilakukan seminggu setelah tanam dan pupuk kedua diberikan umur 30 hari setelah tanam. Jenis pupuk yang diberikan adalah ZA, Urea, TSP, dan KCl dengan dosis masing-masing 36 g, 14 g, 28 g, dan 22 g per tanaman. Pupuk ZA dan Urea diberikan setengah dosis pada pemupukan pertama dan setengahnya lagi pada pemupukan kedua. Pupuk TSP dan KCl diberikan sekaligus pada pemupukan pertama.
9. Pemasangan mulsa koran bekas dilakukan setelah pemupukan, yaitu tiga lapis koran untuk setiap tanaman.
10. Perempelan tunas dilakukan mulai umur 2 minggu setelah tanam.
11. Pemasangan ajir dilakukan pada umur 2 minggu setelah tanam. Ajir terbuat dari bambu dengan pemasangan satu ajir untuk setiap tanaman.
12. Pengairan dengan cara penggenangan ¾ bedengan diberikan 2 kali seminggu.
13. Pupuk susulan (ketiga dan keempat) diberikan dua kali, yaitu pada umur 60 dan 90 hari setelah tanam. Pupuk yang dipakai adalah pupuk lengkap 15-15-15, dengan dosis 7,5 g per tanam per sekali pemberian.
14. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sejak tanaman dipindahtanamankan ke bedengan pertanaman, dengan menggunakan insektisida Decis 2,5 EC, Perfekthion 400 EC, dan fungisida Dithane M-45.
15. Pemanenan dilakukan pada saat buah telah mememenuhi kriteria panen dengan ciri-ciri bentuknya padat, warnanya merah menyala dengan sedikit garis hitam (90% masak).

HASIL

Pengetahuan tentang penggunaan dan manfaat mulsa koran bagi pertumbuhan dan hasil cabe merupakan suatu yang baru bagi petani di sini. Pada umumnya, petani hanya mengenal mulsa plastik yang telah jamak dipakai. Pemakaian mulsa koran menjadi tanda tanya bagi petani karena belum pernah mereka lihat bahkan belum pernah mereka dengar. Sebagian petani serta merta mengatakan tidak mungkin memakai mulsa kertas koran karena pasti akan rusak/koyak bila terkena hujan. Sebagian lainnya berpendapat kertas koran tidak akan bisa menahan pertumbuhan gulma (rumput) karena kertas koran dianggap rapuh. Pendapat seperti ini langsung sirna ketika para petani di sekitar tempat pengabdian melihat langsung betapa kokohnya kertas koran ini berfungsi.

Pertumbuhan gulma tertekan oleh mulsa koran ini,  sebaliknya pertumbuhan dan produksi cabe menjadi maksimum. Tentunya ada banyak manfaat lain dari mulsa ini, antara lain kelembaban tanah tetap terjaga, suhu tanah tidak terlalu panas, dan jasad biologi tanah bertumbuh baik. Semuanya ini akan bermuara pada hasil cabe yang tinggi.  Menurut Purwowidodo (1983), mulsa terbukti dapat mempertahankan tingkat produktivitas tanah. Beberapa kebaikan mulsa antara lain dapat melindungi agregat tanah dari daya rusak butiran hujan, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan, memelihara suhu dan kelembaban tanah, dan mengendalikan pertumbuhan gulma. Tisdale dan Nelson (1975) menyatakan bahwa pemberian mulsa dapat mempengaruhi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Mulsa dapat memperbaiki tata udara tanah dan meningkatkan pori-pori makro tanah sehingga kegiatan jasad renik dapat lebih baik dan ketersediaan air dapat lebih terjamin bagi tanaman. Mulsa dapat pula mempertahankan kelembaban dan suhu tanah sehingga akar tanaman dapat menyerap unsur hara lebih baik. Lebih lanjut, menurut Sarief (1985) pemberian mulsa khususnya mulsa organik seperti kertas koran juga termasuk salah satu teknik pengawetan tanah. Pemberian mulsa ini selain dapat menambah bahan organik tanah juga dapat mengurangi erosi dan evaporasi, memperbesar porositas tanah sehingga daya infiltrasi air menjadi lebih besar.

Dengan mulsa koran, terlihat pertumbuhan cabe sangat kuat dan produksinya sangat tinggi. Produksi cabe mencapai 0,5 – 1,0 kg per batang.   Selain itu, terlihat juga kualitas hasil cabe sangat baik. Kedua hal ini, produksi dan kualitas yang tinggi, mengantarkan usaha cabe ke tingkat yang menguntungkan.   Dari tiga kali panen yang telah dijual, petani memperoleh harga yang baik yaitu rata-rata Rp 20.000,- per kg.

Hasil yang memuaskan ini dapat menjadi daya tarik yang kuat untuk meneruskan memanfaatkan bahan bekas, termasuk koran bekas, sebagai mulsa bagi pertanamannya. Pemanfaatan bahan bekas ini tidak hanya sebatas koran bekas tetapi dapat diperluas ke bahan-bahan lain seperti kertas semen bekas dan sebagainya.  Pemanfaatan bahan bekas dapat menghemat pengeluran petani. Bahan bekas kadang-kadang dapat diperoleh secara cuma-cuma di sekeliling tempat tinggal tanpa harus membeli. Bila terpaksa harus membeli, biasanya barang bekas harganya sangat murah. Sebagai contoh, koran bekas hanya dijual Rp 1500,- per kg. Bila petani rajin mengumpulkan kertas koran bekas, malahan terkadang bisa diperoleh secara gratis.  Demonstrasi penggunaan koran bekas yang sangat menjanjikan ini seharusnya dapat menarik minat petani.  Dari beberapa kali pertemuan dengan para petani di sini bahkan dengan penyuluh di wilayah ini, terlihat ada keinginan yang kuat dari mereka untuk memanfaatkan mulsa kertas koran bekas ini sebagai mulsa.  Terlihat ada kesungguhan dari cara mereka bertanya baik tentang hal-hal yang bersifat teknis maupun hal-hal yang bersifat teroritis.  Lebih jauh, mereka juga ada menyebut dan mendiskusikan tentang baiknya memanfaatkan bahan bekas untuk kemaslahatan lingkungan hidup.

Artikel lebih lengkap dapat anda pesan

 

Caranya Sebagai Berikut:

1. Pesan ke email : hatta_ksg@yahoo.com atau hatta2ksg@gmail.com atau ke HP: 081360016837

2.   Kirim donasi anda minimum Rp 50.000,- ke rekening  No : 1050095020990   Bank Mandiri
3.   Konfirmasikan kiriman anda ke No. Hp 081360016837

Selain artikel di atas, anda diperkenankan memilih bonus 2 buah artikel lainnya dari blog ini atau blog: hatta2fp.wordpress

Artikel akan segera dikirim ke alamat email anda
Catatan: pengiriman hanya dengan email

RENCANA PENANAMAN PADI SRI

Saya membaca di banyak rubrik bahwa padi SRI banyak sekali kelebihannya dibandingkan dengan penanaman badi biasa. Saya awalnya tidak begitu yakin, tetapi akhirnya timbul juga rasa penasaran terhadap padi SRI ini. Tahun ini saya akan melakukan percobaan penanaman padi SRI. Ini saya lakukan dengan beberapa tujuan, yaitu 1) ingin memastikan kebenaran informasi mengenai padi SRI ini 2) dengan banyaknya keuntungan dari padi SRI ini, saya ingin melakukan demo agar petani bisa melihat tata cara penanaman padi SRI di lapangan 3) ingin membantu pemerintah mengamankan ketersediaan pangan terutama beras.

Berikut adalah rencana penanaman padi SRI

Pendahuluan
Desa Cot Cut terletak di wilayah Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, lebih kurang 7 km dari Kota Banda Aceh. Sebagian besar penduduk desa ini bermatapencaharian sebagai petani padi.
Bagi masyarakat Desa Cot Cut bertanaman padi sudah merupakan pekerjaan wajib dan menjadi tumpuan hidup sebagian warga. Selain itu, bagi warga desa ini, padi merupakan komoditi yang dapat memberikan rasa aman. Bila padi masih tersedia di rumah, keluarga merasa sangat aman dan nyaman dalam menjalankan kehidupannya.
Pertanian padi di desa ini sebagian besar berada pada lahan sawah yang beririgasi semi teknis dan sebagian lainnya tanah hujan. Luas lahan sawah di desa ini mencapai setengah dari luas desa ini, yaitu sekitar 500 ha. Namun demikian, umumnya, para petani memiliki luas lahan sawah yang terbatas, yaitu antara 2000 m2 sampai 10000 m2. Bahkan, ada juga sebagian petani yang sama sekali tidak memiliki lahan sendiri. Biasanya, petani padi ini menggunakan sawah sewaan, dengan sistem sewa 2 : 1 (dua bagian panen untuk petani dan satu bagian panen untuk pemilik sawah).
Produktivitas sawah di desa ini juga masih tergolong rendah. Rata-rata hasil padi per hektar per musim tanam sekitar 4 – 5 ton. Produktivitas seperti ini telah berlangsung sangat lama tanpa ada tendensi untuk meningkat. Peningkatan produktivitas padi di daerah ini akan sangat sulit terjadi apabila tidak ada inovasi baru.
Hasil pengamatan kami di lapangan mengindikasikan bahwa ada beberapa penyebab mengapa produktivitas padi di daerah ini sulit meningkat. Salah satu penyebab adalah petani tidak mempunyai keberanian dan pengetahuan untuk mengusahakan dengan cara baru. Ada kesan bahwa cara menanam padi tidak bisa diubah sebagaimana yang sekarang ini dilakukan. Pendapat bahwa padi harus ditanam dalam air sangat melekat kuat dipikiran para petani. Padahal kita tahu bahwa padi sebenarnya bukanlah tanaman air.
Masih banyak hal lain yang juga ikut menyebabkan sulitnya meningkatkan produktivitas padi. Antara lain adalah pupuk yang dipakai pada tanaman padi. Hampir semua petani di desa ini menganggap bahwa padi hanya memerlukan pupuk urea. Padahal kita tahu bahwa tanaman padi sebagaimana halnya dengan tanaman lain juga memerlukan unsur hara lainnya dan karenanya memerlukan pemupukan yang seimbang. Hal yang sama juga terjadi terhadap pupuk organik. Pupuk organik dianggap tidak diperlukan. Padahal para ahli menyatakan bahwa pupuk organik sangat bermanfaat baik untuk kesuburan tanah maupun untuk pertumbuhan dan hasil tanaman.
Kondisi ini tentu tidak menguntungkan. Produktivitas sawah di daerah ini menjadi statis dan rendah. Petani tidak dapat meningkatkan pendapatannya sehingga tidak ada perbaikan kesejahteraan. Petani miskin menjadi tetap miskin.
Berdasarkan pengamatan dan analisis ini, kami bermaksud melakukan suatu pengabdian kepada masyarakat di desa ini untuk membuka wawasan petani bagi peningkatan produktivitas tanaman khususnya tanaman padi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan contoh cara bertaman padi alternatif, yaitu bertanam padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification).
Metode SRI ini sangat ramah lingkungan, sangat hemat dalam pemakaian air dan ekonomis dalam penggunaan benih. Menurut beberapa hasil penelitian, hasil yang diperoleh dengan sistem SRI ini sangat tinggi, lebih tinggi daripada dengan metode konvensional biasa. Hasil penelitian oleh Nissanka dan Bandara (2004) menunjukkan bahwa metode SRI memberikan pertumbuhan yang lebih kuat, menghasilkan bulir yang lebih banyak, dan produksi bahan kering yang lebih tinggi daripada meode konvensional biasa. Zheng et al. (2004) menyatakan bahwa sistem SRI dapat menghasilkan padi sampai 12 ton ha-1. Lebih lanjut Ramanujan (2006) menyatakan bahwa sementara metode konvensional hanya memberikan rata-rata hasil antara 2 – 4 ton ha-1, metode SRI dapat menghasilkan rata-rata hasil antara 7 – 8 ton ha-1, bahkan sampai 15 ton ha-1.

Perumusan Masalah
Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, ada beberapa hal yang perlu diperkenalkan pada petani di desa ini. Hal-hal tersebut antara lain teknik penyemaian, pemindahan dan penanaman, pemupukan (organik dan anorganik), pengairan, dan penyiangan. Berikut rumusan masalah petani di desa ini.
1. Petani tidak mengenal dan menguasai teknik budi daya padi alternatif seperti metode SRI yang berbeda dengan metode konvensional. Perbedaan metode SRI terletak pada penyemaian, pemindahan dan penanaman, pemupukan (organik dan anorganik), pengairan, dan penyiangan.
2. Petani belum memiliki wawasan dan pengetahuan yang memadai berkenaan dengan hubungan sebab akibat dari setiap tahapan kegiatan budi daya yang dikerjakan.
3. Petani belum memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekelilingnya yang murah dan ramah lingkungan sebagai alternatif untuk meningkatkan produktivitas lahan dan hasil padi, seperti penggunaan pupuk kandang atau kompos yang banyak terdapat di sekelilingnya.

Tinjauan Pustaka
1. Syarat Tumbuh Padi
Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 m dpl dengan suhu 19 – 27 0C, memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan (Prabowo, 2007). Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500 – 2000 mm (Warintek Bantul, 2008)
Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang berlumpur. Ketebalan lapisan atasnya yang baik adalah antara 18 -22 cm dengan pH antara 4 -7 (Prabowo, 2007; Warintek Bantul, 2008).

2. Metode SRI
SRI pertama sekali dikembangkan di Madagaskar pada tahun 1980an oleh Jesuit dan telah mencetak keberhasilan di Afrika, Amerika Latin, and Asia, termasuk India and China (Haviland, 2005). Metode ini tidak dikenal di luar Madagaskar sampai tahun 1997. Metode SRI memerlukan sedikit air dan sedikit input namun memberikan hasil yang lebih tinggi (The SRI Group, 2006; Ikisan, 2000).
Metode SRI hanya memerlukan setengah jumlah air daripada metode konvensional. Pada metode SRI, tanaman tidak digenangi air tetapi cukup dilembabkan selama pertumbuhan vegetatif. Pada fase akhir vegetatif, lahan sawah cukup digenangi air sedalam 2,5 cm.
Pada metode SRI, diperlukan jumlah benih yang sedikit (5 – 10 kg/hektar) dan juga sedikit tanaman per unit luas lahan (jarak tanam 25 x 25 cm), sementara metode biasa memerlukan 25 – 40 kg per hektar (The SRI Group, 2006; AAK, 1990).
Metode SRI akan menghasilkan tanaman dengan akar yang banyak, anakan yang kuat dan banyak, tidak rebah, malai yang besar, bulir berisi dan bulir yang lebih berat, dan tanaman tahan terhadap hama dan penyakit. Perkembangan anakan padi pada metode ini sangat menonjol. Jumlah 30 – 50 anakan mudah dicapai, bahkan jumlah 100 anakan atau lebih dapat dicapai bila metode SRI diterapkan dengan baik (Ikisan, 2000).

Tujuan Kegiatan
Tujuan pelaksanaan pengabdian ini adalah agar petani memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang memadai mengenai budi daya tanaman padi metode SRI untuk meningkatkan produksi padi yang sekaligus dapat meningkatkan pendapatan petani. Ini dapat dicapai dengan membuat demonstrasi dan memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada petani tentang metode budidaya tanaman padi metode SRI secara langsung di lapangan.

Manfaat Kegiatan
Dari kegiatan ini diharapkan petani akan memperoleh manfaat antara lain:
1. Petani mengenal dan dapat melakukan bercocok tanam padi alternatif dengan benar
2. Petani mengerti dan paham tentang semua tahap kegiatan penanaman padi metode SRI yang dikerjakan.
3. Petani bertambah pendapatannya yang merupakan hasil dari pengurangan input dan penambahan hasil.

Khalayak Sasaran
Sasaran dari pengabdian ini adalah petani padi di Desa Cot Cut yang berlokasi di sekitar bantaran Krueng Aceh. Jumlah petani yang akan dilibatkan langsung sebanyak lima kepala keluarga. Dengan kegiatan ini diharapkan petani akan bertambah wawasan dan pengetahuannya, meningkat produksi padinya, dan bertambah penghasilannya sehingga dapat menjadi contoh teladan bagi petani lainnya di sekitar daerah tersebut.

Metode Penerapan Ipteks
Metode kegiatan yang akan digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah pembuatan demplot, penyuluhan, dan bimbingan penerapan langsung budi daya tanaman padi metode SRI di lapangan. Demplot direncanakan seluas 2000 m2. Penyuluhan dan bimbingan pelaksanaan metode SRI secara rinci akan langsung diperagakan di demplot tersebut.
Garis besar kegiatan teknik budi daya tanaman padi metode SRI adalah sebagai berikut:
1. Pengolahan tanah dilakukan dengan menggunakan traktor, dua kali bajak sedalam 18 cm. Pengolahan tanah dilakukan secara basah.
2. Lahan sawah kemudian digaru dan diratakan.
3. Lahan digenangi selama seminggu untuk menekan pertumbuhan gulma kemudian dikeringkan.
4. Saluran drainase dibuat setiap jarak 5 m dengan lebar 50 cm dan dalam 30 cm.
5. Pupuk kandang diberikan dua minggu sebelum tanam dengan dosis 10 ton ha-1. Pemberiannya dilakukan secara sebar dan kemudian digaru.
6. Dua minggu sebelum tanam, penyemaian benih dipersiapkan. Benih padi sebanyak 2 kg dimasukkan dalam air. Biji padi yang terapung dibuang, sedangkan biji yang tenggelam dipakai.
7. Biji yang terpilih direndam dalam air selama 24 jam. Setelah itu, benih padi tersebut ditiriskan dan dimasukkan dalam karung goni selama dua hari untuk proses perkecambahan.
8. Biji yang telah berkecambah kemudian disemai ditempat persemaian. Tempat persemaian dipersiapkan 7 hari sebelumnya, berupa lahan sawah kering dan diberikan pupuk kandang dengan dosis 2 kg/m2. Luas tempat persemaian sekitar 40 m2 dengan rate 50 g/ m2.
9. Persemaian disiram 2 kali sehari dan setelah 10-12 hari bibit dipindahtanamkan.
10. Penaman dilakukan dengan jarak 25 cm x 25 cm.
11. Pupuk anorganik yang diberikan berupa urea 200 kg/ha, SP36 100 kg/ha, dan KCl 100 kg/ha (AAK, 1990; Departemen Transmigrasi, 1986).
12. Pemupukan pertama dilakukan dua minggu setelah tanam, pupuk kedua diberikan umur empat minggu setelah tanam, dan pupuk ketiga diberikan enam minggu setelah tanam. Pupuk Urea diberikan tiga kali, yaitu setengah dosis pada pemupukan pertama dan masing-masing seperempat dosis pada pemupukan kedua, dan ketiga. Pupuk TSP dan KCl diberikan sekaligus pada pemupukan pertama.
13. Pengairan dilakukan dengan cara memasukkan air ke sawah sampai keadaan macak-macak. Pengairan dilakukan seminggu sekali.
14. Penyiangan gulma dilakukan seminggu sekali.
15. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan bila terlihat gejala serangan hama dan penyakit. Insektisida yang akan dipakai adalah Decis 2,5 EC dan fungisida Dithane M-45.
16. Pemanenan dilakukan pada saat buah padi telah bewarna kuning, sekitar 30 hari setelah keluar bunga.

Rancangan Evaluasi
Tingkat keberhasilan dari kegiatan ini akan dievaluasi dengan menggunakan parameter sebagai berikut.
1. Keikutsertaan dan respons petani selama kegiatan berlangsung.
2. Penambahan pengetahuan dalam teknik budi daya padi metode SRI.
3. Produksi padi yang diperoleh
4. Keinginan petani untuk menerapkan metode SRI dan memanfaatkan sumber bahan yang tersedia di lingkungannya termasuk pupuk kandang.
5. Keinginan petani lain di sekitar untuk mencoba menggunakan metode SRI sebagaimana yang dipakai dalam kegiatan ini.

Lokasi pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah di Desa Cot Cut. Desa ini terletak di wilayah Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, lebih kurang 7 km dari Kota Banda Aceh. Dari Kampus Fakultas Pertanian, Unsyiah, desa ini hanya berjarak sekitar 3 km di sebelah selatan kampus.

Artikel hasil percobaan metode SRI ini dapat anda pesan

 

Caranya Sebagai Berikut:

1. Pesan ke email : hatta_ksg@yahoo.com atau hatta2ksg@gmail.com atau ke HP: 081360016837

2.   Kirim donasi anda minimum Rp 50.000,- ke rekening  No : 1050095020990   Bank Mandiri
3.   Konfirmasikan kiriman anda ke No. Hp 081360016837

Selain artikel ini, anda diperkenankan memilih bonus 2 buah artikel lainnya dari blog ini atau blog: hatta2fp.wordpress

Artikel akan segera dikirim ke alamat email anda
Catatan: pengiriman hanya dengan email