PERTANIAN DAN TANAMAN TRANSGENIK: RESIKO DAN MANFAATNYA

By Umesh Prasad Shrivastava

 

disarikan oleh

Muhammad Hatta

Tulisan ini diangkat dari artikel yang berjudul “TRANSGENIC PLANTS: REVIEW ON RISKS AND BENEFITS IN THE ENVIRONMENT OF DEVELOPING COUNTRIES” oleh Umesh Prasad Shrivastava. Tulisan ini tidak menyajikan seluruh isi artikel, tetapi hanya sebagian saja dari artikel aslinya.

Pendahuluan

Organisme transgenik, disebut juga sebagai organisme-yang-dimodifikasi-secara-genetik (OMG), umumnya diproduksi dengan menerapkan teknik-teknik rekayasa genetika atau modifikasi bahan genetik tanaman (Skerritt, 2000). Secara sederhana, modifikasi genetik dapat didefinisikan sebagai tranfer bahan genetik dari spesies yang berbeda (tumbuhan, bakteri atau hewan) atau dari gen yang disintesis secara kimiawi ke dalam tanaman sasaran. Rekayasa genetika tanaman pertama yang sukses dilaporkan pada tahun 1983. Tanaman berdaun lebar seperti tembakau dan tomat dapat dimodifikasi dengan mudah, tetapi tidak ada laporan keberhasilan transformasi genetik pada tanaman biji-bijian seperti padi dan jagung sampai akhir tahun 1980-an.

Transformasi genetik yang berhasil pada tanaman barley dan gandum baru terjadi pada pertengahan 1990-an (Skerritt, 2000). Gen (sebagai bagian dari kromosom daripada sebagai gen tunggal) secara spontan ditransfer dari tanaman rumput seperti Agropyron ke gandum dan varietas turunannya digunakan untuk makanan manusia tanpa kontroversi. Teknik lain seperti penggunaan kultur jaringan tanaman, mutasi induksi, haploid ganda dan hibrida F1 juga melibatkan campur tangan pemuliaan alami tetapi tidak terjadi kontroversi. Hal yang membedakan tanaman rekayasa genetika adalah gen sasaran yang akan digunakan dan fakta bahwa gen sasaran tidak dibatasi hanya berada pada spesies yang sama. Sesungguhnya, potensi untuk bisa menggunakan gen manusia atau hewan pada tanaman merupakan contoh potensi teknologi. Namun demikian, ada kemungkinan bahwa penggunaan yang demikian memiliki dampak negatif pada persepsi publik terhadap rekayasa genetika.

Status tanaman transgenik yang ditanam di lapangan saat ini

Penanaman komersial tanaman transgenik pertama dimulai pada tahun 1995 dan pada tahun 2000, 44,2 juta ha tanaman transgenik telah ditanam di 13 negara (James, 2001). Penggunaan teknologi ini hanya meningkat 11% di seluruh wilayah tersebut pada tahun 1999 dan pada tahun 2000 meluas dengan sangat cepat (84%) di negara-negara berkembang. Di seluruh dunia, tanaman transgenik paling banyak ditanam di negara-negara maju (76% dari total luas) dan 24% di negara-negara berkembang. Sebagian besar daerah menanam empat jenis tanaman, yaitu kedelai (58%), jagung (23%), kapas (12%) dan canola (7%). Daerah pertanaman untuk kedelai dan kapas transgenik meningkat sejak tahun 1999, tetapi jagung dan canola menurun (James, 2001).

Meskipun banyak sifat telah dimasukkan ke dalam banyak spesies tanaman, tetapi hanya sedikit pada tanaman komersial, sebagian besar sifat tahan terhadap herbisida dan tahan terhadap serangga. Pada tahun 2000, 74% dari seluruh tanaman transgenik adalah tahan herbisida, toleran serangga 19% dan 7% mengandung kedua sifat tersebut. Kedelai tahan herbisida adalah tanaman transgenik yang paling banyak ditanam (59% dari area yang ditujukan untuk tanaman transgenik) dan jagung tahan insekta adalah nomor dua (15% dari area global).

Saat ini, ada kerangka berpikir yang kurang tepat sehingga dapat mengaburkan penilaian, aplikasi komersial potensial, dan evaluasi dari teknologi ini. Ketika para pihak industri tanaman transgenik diminta untuk menilai konsekuensi lingkungan yang potensial dari produk mereka, hasilnya tidak mengesankan (Purrington dan Bergelson, 1995). Dengan demikan, ada kebutuhan untuk membuat kerangka berpikir konseptual dan melibatkan lebih banyak ahli ekologi.

Penilaian risiko lingkungan dalam bingkai ekologi

Saat ini telah disadari bahwa bidang pertanian juga merupakan bagian dari "teater ekologi" di mana "permainan evolusi" terus dimainkan (Hutchinson, 1965). Ketika tanaman transgenik ditanam di lapangan, maka tanaman tersebut berinteraksi dengan banyak spesies lain yang tumbuh di sekitar lingkungan tersebut dan melakukan proses ekologi di lapangan pertanian. Sangat alami, tanaman ini adalah "aktor" alam yang memainkan peran penting dalam "teater ekologi." Peran yang dimainkan bersama-sama dengan tanaman transgenik, memunculkan sejumlah pertanyaan, yang disebutkan di bawah ini.

1. Herbivora yang makanannya bergantung pada tanaman tersebut di atas atau di bawah tanah. Bagaimana pengaruhnya terhadap herbivora non-target (dan keanekaragaman hayati)?

2. Tanaman lain, apakah satu jenis atau individu dari spesies lain ? Bagaimana dengan invasi dan transfer gen?

3. Musuh alami organisme ini. Apa konsekuensi dari pengendalian hama alami?

4. Penyerbuk pada bunga mereka. Apa konsekuensi potensial terhadap serangga penyerbuk?

5. Simbion yang hidup di zona akar, seperti mikoriza atau bakteri pengikat nitrogen. Bagaimana mereka berinteraksi?

6. Detritivore dan pengurai yang memakan bagian tanaman mati. Bagaimana hal ini mempengaruhi proses ekologi tanah dalam mempertahankan kesuburan tanah, siklus hara dan pertumbuhan tanaman?

Pengaruhnya terhadap keanekaragaman hayati

Di daerah pertanian intensif, terutama di belahan bumi utara, pertanian merupakan faktor manajemen lingkungan yang signifikan, dan banyak keanekaragaman hayati pada negara-negara itu ada pada lapangan pertanian budidaya (Krebs et al., 1999). Oleh karena itu, perubahan pola manajemen pertanian memiliki konsekuensi yang signifikan bagi keanekaragaman hayati di negara-negara tersebut.

Tanaman tahan herbisida diproyeksi akan memungkinkan pengendalian gulma lebih efisien. Keberatan terhadap kondisi ini mulai ada, terutama di Inggris, yang menekankan konsekuensi negatif pada keanekaragaman hayati di pedesaan. Penjelasan yang diajukan adalah hanya sedikit tanaman biji-bijian yang dapat bertahan hidup untuk menyediakan sumber daya bagi banyak organisme mulai dari invertebrata sampai burung. Kemungkinan pengaruh dari skenario seperti itu didekati dengan pemodelan (Watkinson et al., 2000). Mereka mendebat dengan menggunakan model gulma (Chenopodium album) dan burung penyanyi (skylark, Alauda arvensis) di lapangan untuk memprediksi dampak tanaman gula bit yang tahan herbisida terhadap keanekaragaman hayati pada umumnya. Hasilnya menunjukkan bahwa ada potensi pengaruh negatif yang signifikan terhadap burung pemakan bijian. Keprihatinan tersebut mendorong pemerintah Inggris melarang menanam tanaman transgenik secara komersial dan mulai melakukan pengujian sekala lapangan selama 4 tahun untuk mempelajari apa pengaruh tanaman transgenik tahan herbisida terhadap keanekaragaman hayati (Firbank et al., 1999). Sejauh ini, hasil kajian yang dipublikasikan dari pengaruh tanaman transgenik terhadap keanekaragaman hayati rada tidak sempurna (Hilbeck et al., 2000).

Konsekuensi dari perlarian gen dan agresi

Perlarian gen diakui sebagai bahaya yang berpotensi (Wolfenbarger & Phifer, 2000). Ini dapat terjadi akibat adanya kemungkinan kawin silang dan hibridisasi dengan kerabat liarnya (Elstrand et al., 1999). Konsekuensi ekologisnya bisa menjadi serius jika terjadi perubahan sifat kejaguran atau agresi dari tanaman transgenik. Agresi telah diakui sebagai ancaman utama di Selandia Baru, tetapi agresi juga terjadi di seluruh dunia (Vitousek et al., 1997a). Data yang berkaitan dengan kejaguran atau agresi dari tanaman rekayasa genetika masih langka. Tanaman canola yang mengandung gen Bt-toksin memiliki kejaguran pada kondisi adanya serangga herbivora (Stewart et al., 1997). Dalam sebuah studi jangka panjang terhadap daya bertahan hidup di alam liar dan agresi tanaman tahan herbisida di daerah yang berbeda dari Kepulauan Inggris, didapatkan bahwa tidak ada galur tanaman rekayasa genetika bisa bertahan hidup lebih lama dari 4 tahun bila ditanam di habitat alami (Crawley et al, 2001.). Namun, keberhasilan agresi terkait dengan skala dan agak sulit untuk memprediksi konsekuensinya pada pertanaman skala luas dari tanaman transgenik dari studi skala yang terbatas.

Pengaruhnya terhadap musuh alami

Tanaman tahan insekta targetnya adalah untuk mengurangi kepadatan serangga tertentu yang makan tanaman itu. Akan tetapi, serangga ini juga berfungsi sebagai mangsa dari berbagai musuh alami. Pengaruh potenial yang penting dari tanaman transgenik adalah konsekuensi dari terjadinya perubahan keberadaan dan kepadatan mangsa bagi musuh alami. Jika kepadatan mangsa berkurang, maka pengaruh aliran langsungnya adalah berkurangnya juga kepadatan musuh alami mereka. Kentang transgenik yang mengendalikan kumbang kentang Colorado mungkin bertanggung jawab atas penurunan predator kumbang tanah (Riddick et al., 1998).

Insekta predator dan parasitoid juga sensitif terhadap kualitas mangsanya di satu sisi dan di sisi lain, tanaman menentukan kualitas mangsa. Dengan demikian, terjadi tiga arah interaksi di lapangan (Price et al, 1980.). Banyak contoh tersebut diakui terjadi di lingkungan tanaman transgenik atau lingkungan yang serupa. Sebagi contoh, lebah parasitoid Eulophus pennicornis telah berkurang kemampuan parasitnya terhadap inang cacing-buah-tomat (Lacanobia oleracea) dari tanaman kacang buncis yang mengandung inhibitor tripsin (Bell et al., 2001). Parasitoid juga dapat bereaksi tingkat perilakunya terhadap tanaman inang yang berasal dari tanaman transgenik (Schuler et al., 1999).

Kumbang dewasa, ketika diberi kutu daun yang dipelihara pada kentang transgenik (mengekspresikan lektin snowdrop), mengalami pengaruh negatif. Betina dewasa (tapi tidak yang jantan) umurnya berkurang, peletakan telur dan viabilitas telur menurun (Birch et al, 1999.). Menariknya, larva kumbang yang sama t tidak menderita konsekuensi yang sama (Down et al., 2000).

Dalam kasus lain, kumbang tanah dewasa memakan lebih sedikit mangsa ulatnya ketika mangsanya ini dipelihara pada diet yang mengandung inhibitor proteinase vs diet normal. Pengaruh ini berlangsung lebih lama daripada paparan sebenarnya terhadap mangsa yang dimanipulasi dan tergantung pada usia (Jørgensen & Lovei, 1999). Inhibitor proteinase tampaknya mempengaruhi kesesuaian herbivora sebagai mangsa dari predator ini.

Pengaruhnya terhadap penyerbuk

Lebih dari 25% tanaman pangan dunia diserbuki oleh hewan. Organisme penyerbuk di daerah beriklim dingin sebagian besar adalah serangga, yaitu lebah dan tawon (Buchmann & Nabham 1996). Mereka bisa menjadi agen penyebar serbuk sari dan terpapar ke setiap produk transgenik yang ada dalam serbuk sari atau nektar. Lebah dan tawon dapat dipengaruhi oleh produk transgenik (Malone et al, 2001.), Dengan demikian, studi sistematis terhadap penilaian risiko lingkungan tanaman transgenik tampaknya penting, yang dapat menyakinkan kita bahwa layanan ekosistem tidak dalam keadaan rusak (Lovei et al. , 2001).

Pengaruhnya terhadap organisme tanah dan dekomposer

Bt-toksin dilaporkan terdapat dalam eksudat akar jagung Bt-transgenik. Konsentrasinya cukup untuk membunuh serangga, (Saxena et al., 2000). Akibatnya untuk masa jangka panjang masih belum diketahui. Pengaruh sementara dan perubahan signifikan telah dilaporkan terhadap populasi protozoa dalam tanah pada galur kentang rekayasa genetik (Griffiths et al., 2000). Pemeliharaan kesuburan tanah tergantung pada proses biologi, oleh karenanya pengujian pengaruh tanaman transgenik terhadap proses dalam tanah menjadi sangat penting.

Banyak aktor berperan serta dalam proses ekologis yang berguna dan diperlukan untuk produksi pertanian. Proses ini disebut ‘jasa ekosistem’ (Lovei, 2001). Kerangka pikir dari ‘jasa ekosistem’ ini akan berguna dalam rangka untuk membuat konsep penilaian risiko lingkungan dari tanaman transgenik.

Pengaruhnya terhadap organisme non-target

Organisme bukan target yang memakan tanaman dapat dipengaruhi oleh tanaman tahan insenkta. Misalnya, serbuk sari jagung transgenik, yang diletakkan pada daun milkweed dapat menyebabkan kematian larva kupu-kupu raja (Danais plexippus) (Losey et al., 1999), yang merupakan spesies yang penting pada konservasi alam di Amerika Serikat. Penelitian ini memberikan dampak yang berbahaya bagi jenis lainnya, yang menunjukkan bahwa serbuk sari alami dapat menyebabkan kematian yang signifikan (Hansen Jesse dan Obrycki, 2000). Akan tetapi, larva dari swallowtail hitam (Papilio polyxenes) tidak sensitif terhadap serbuk sari jagung transgenik (Wraight et al., 2000).

Manfaat ekologi potensial

Evaluasi dampak lingkungan dari organisme transgenik sering berpusat pada risiko yang menyertainya. Hal ini dapat dibenarkan, karena setiap, teknologi baru dalam skala besar memang memiliki risiko dan konsekuensi yang tidak terduga. Namun, sejumlah argumen memperlihatkan adanya dampak lingkungan positif dari produksi skala besar tanaman transgenik (Wolfenbarger dan Phifer, 2000).

Mengurangi dampak lingkungan dari pestisida

Herbisida dan pestisida memiliki potensi bahaya bagi pencemaran lingkungan, sementara tanaman transgenik dapat menurunkan penggunaan bahan kimia berbahaya bagi lingkungan untuk mengendalikan gulma dan hama. (Wolfenbarger dan Phifer, 2000). Sebagai contoh, berkurang frekuensi perlakuan dapat membawa berkurangnya pencemaran pestisida jika paralel dengan berkurangnya jumlah pestisida dan herbisida yang digunakan. Konflik klaim telah banyak terjadi tentang pengaruh tanaman toleran herbisida di Amerika Serikat (Carpenter dan Gianessi, 2000). Dengan tidak adanya dokumentasi yang diterbitkan di mana asumsi dan validitas dari argumen tersebut dapat diperiksa, maka tidak ada kesimpulan yang bisa ditarik (Wolfenbarger dan Phifer, 2000).

Peningkatan hasil

Jika hasil panen meningkat, maka sedikit daerah budidaya diperlukan untuk menghasilkan jumlah pangan yang dibutuhkan oleh manusia. Hal ini dapat mengakibatkan berkurangnya tekanan terhadap lahan yang belum ditanami dan memungkinkan bisa lebih banyak lahan dibiarkan untuk konservasi. Manfaat lingkungan yang potensial ini mungkin sangat besar terjadi di negara-negara berkembang di mana sebagian besar peningkatan produksi pertanian dihasilkan dari pembukaan daerah-daerah baru.

Konservasi tanah

Tanaman toleran herbisida memungkinkan petani untuk meninggalkan penggunaan herbisida pra tumbuh. Pergeseran ke pengendalian gulma pascatumbuh ini dapat meningkatkan praktek pengolahan tanpa olah dan konservasi tanah, menurunkan erosi tanah, kehilangan air, dan meningkatkan bahan organik tanah (Cannell dan Hawes, 1994).

Fitoremediasi

Penekanan diberikan dalam perbaikan pencemaran tanah dan air in situ dengan tanaman transgenik dan mikro-organisme. Tanaman transgenik dapat menyerap logam berat dari tanah (Gleba et al., 1999) atau mendetoksifikasi polutan (Bizily et al., 2000). Hal ini belum digunakan secara luas, sehingga dampak lingkungannya belum banyak diteliti.

Kesimpulan

Berbagai tanaman transgenik telah diproduksi dengan menggunakan berbagai teknik. Tanaman ini berinteraksi dengan organisme lain dan lingkungan pertanian. Akan tetapi, budidaya tanaman ini menjadi bahan perdebatan. Berbagai pertanyaan tentang faktor risiko telah diajukan oleh banyak penulis, misalnya masalah yang terkait dengan konsekuensi dari perlarian gen, dampak negatif terhadap keanekaragaman hayati, musuh alami, penyerbuk, organisme tanah, pengurai dan berbagai organisme bukan-sasaran. Di sisi lain, pendukungnya memberikan penekanan dalam mendukung tanaman transgenik dan mengemukakan manfaatnya, misalnya berkurangnya dampak lingkungan dari pestisida dan insektisida, meningkatnya hasil, konservasi tanah dan air, dan fitoremediasi.

DAFTAR PUSTAKA

Bell, H.A., Fitches, E.C., Down, R.E., Ford, L., Marris, G.C., Edwards, J.P. et al.. (2001). Effect of cowpea trypsin inhibitor (CpTI) on the growth and development of the tomato moth Lacanobia oleracae (Lepidoptera: Noctuidae) and on the success of the gregarious ectoparasitoid Eulophus pennicornis (Hymenoptera: Eulophidae). Pest Management Science, 57, 57-65.

Birch, A.N.E., Geoghean, I.E., Majerus, M.E.N., McNicol, J.W., Hackett, C.A., Gatehouse, A.M.R. et al.. (1999). Tri-trophic interactions involving pest aphid, predatory 2-spot ladybirds and transgenic potatoes expressing snowdrop lectin for aphid resistance. Molecular Breeding, 5, 75-83.

Bizily, S.P., Rugh, C.L. & Meagher, R.B. (2000) Phytodetoxification of hazardousorganomercurials bygenetically engineered plants. Nature Biotechnology, 18, 213- 217.

Buchmann, S.L. & Nabham,G.P. (1996). The forgotten pollinators. Washington, D.C.: Island Press.

Cannell, R.Q. & Hawes, J.D. (1994). Trends in tillage practices in relation to sustainable crop production with special reference to temperate climates. Soil Tillage Research, 30, 245 – 282.

Carpenter, J. & Gianessi, L. (2000). Herbicide use on roundup ready crops. Science, 287, 803-804.

clip_image001Crawley, M.J., Brown, S.L., Hails, R.S., Kohn, D.D. & Rees, M. (2001). Transgenic crops in natural habitats. Nature, 409, 682-683.

Down, R.E., Ford, L., Woodhouse, S.D., Raemaekers, R.J.M., Leitch, B., Gatehouse, J.A. et al.. (2000) Snowdrop lectin (GNA) has no acute toxic effects on a beneficial insect predator, the 2-spot ladybird (Adalia bipunctata L.). Journal of Insect Physiology, 46, 379-391.

Elstrand, N.C., Prentice, H.C. & Hancock, J.F. (1999). Gene flow and introgression from domesticated plants into their wild relatives. Annual Review of Ecology and Systematics, 30, 539-563.

Firbank, L.G., Dewar, A.M., Hill M.O., May, M.J., Perry, J.N., Rothery, P. et al.. (1999). Farm-scale evaluation of GM crops explained. Nature, 399, 727-728.

Gleba, D., Borisjuk, N.V., Borisjuk, L.G., Kneer, R., Poulev, A., Sarzhinskaya, M. et al.. (1999). Use of plant roots for phytoremediation and molecular farming. Proceedings of National Academy of Science U.S.A., 96, 5973 – 5977.

Griffiths, B.S., Geoghean, I.E. & Robertson, W.M. (2000). Testing genetically engineered potato, producing the lectins GNA and ConA, on non-target soil organisms and processes, Journal of Applied Ecology, 37, 159-170.

Hansen Jesse, L.C. & Obrycki, J.J. (2000). Field deposition of Bt transgenic corn pollen: lethal effects on the monarch butterfly. Oecologia, 125, 241-248.

Hilbeck, A., Meier, M.S. & Raps, A. (2000). Review on non-target organisms and Bt-plants. EcoStrat GmbH, Zurich. 77 p.

Hutchinson, G.E. (1965). The ecological theatre and the evolutionary play. New Haven, U.S.A: Yale Univ. Press.

James, C. (1988). Global review of transgenic crops, 1998. ISAAA Briefs No. 8, International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications, Ithaca, NY, USA. http://www.agbiotechnet.com/reports/ isaaa_briefs/Brief8.pdf

Jørgensen, H.B. & Lövei, G.L. (1999). Tritrophic effects on predator feeding: consumption by the carabid Harpalus affinis of Heliothis armigera caterpillars fed on proteinase inhibitor- containing diet. Entomologia Experimentalis et Applicata, 93, 113- 116.

Krattiger, A.F. (1997). Insect resistance to crops: A case study of Bacillus thuringiensis (Bt) and its transfer to developing countries, ISAAA Briefs No. 2, International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications, Ithaca, NY, USA. http://www. agbiotechnet.com/reports/isaaa_briefs/Brief2. pdf

Krebs, J.R., Wilson, J.D., Bradbury, R.B. & Siriwardena, G.M. (1999). The second silent spring. Nature, 400, 611-612.

Losey, J.E., Rayor, L.S. & Carter, M.E. (1999). Transgenic pollen harms monarch larvae. Nature, 399, 214.

Lövei, G.l. (2001). Ecological risks and benefits of transgenic Plants. New Zealand Plant Protection, 54, 93-100.

Malone, L.A., Burgess, E.P.J., Gatehouse, H.S., Voisey, C.R., Tregida, E.L. & Philip, B.A. (2001). Effects of ingestion of a Bacillus thuringiensis toxin and a trypsin inhibitor on honey bee flight activity and longevity. Apidologie, 32, 57-68.

Price, P.W., Bouton, C.E., Gross, P., Bruce, A.M., Thompson, J.N. and Weis, A.E. (1980). Interactions among three trophic levels: influence of plants on interactions between insect herbivores and natural enemies. Annual Review of Entomology, 11, 41-65.

Purrington, C.B. & Bergelson, J. (1995). Assessing weediness of trangenic crops: industry plays plant ecologist. Trends in Ecology and Evolution, 10, 340-342.

Riddick, E.W., Dively, G. & Barbosa, P. (1998). Effect of a seed-mix deployment of Cry3 A transgenic and non transgenic potato on the abundance of Lebia grandis (Coleoptera : Carabidae) and Coleomegilla maculata (Coleoptera : Coccinellidae). Annals of Entomology Society of America, 91, 647 – 653.

Saxena, D., Flores, S. & Stotzky, G. (2000). Insecticidal toxin in root exudates from Bt corn. Nature, 402, 480.

Schuler, T.H., Potting, R.P.J., Denholm , I. & Poppy, G.M. (1999). Parasitoid behaviour and Bt plants. Nature, 400, 825-826.

Skerritt, J. H. (2000). Genetically modified plants: developing countries and the public acceptance debate. AgBiotechNet, Vol. 2 February, ABN040.

Stewart, C.N. jr., All, J.N., Raymer, P.L. & Ramachadran, S. (1997). Increased fitness of transgenic insecticidal rapeseed under insect selection pressure. Molecular Ecology, 6, 773- 779.

Vitousek, P.M., D’Antonio, C.M., Loope, L.L., Rejmanek, M. & Westbrooks, R. (1997). Introduced species: a significant component of human-caused global change. New Zealand Journal of Ecology, 21, 1-16.

Watkinson, A.R., Freckleton, R.P., Robinson, R.A. & Sutherland, W.J. (2000). Predictions of biodiversity response to enetically modified herbicide-tolerant crops. Science, 289, 1554-1557.

Wolfenbarger, L.L. & Phifer, P.R. (2000). The ecological risks and benefits of genetically engineered plants. Science, 290, 2088­2093.

Wraight, C.L., Zangerl, A.R., Carroll, M.J. & Berenbaum, M.R. (2000). Absence of toxicity of Bacillus thuringiensis pollen to black swallowtails under field conditions. Proceedings of National. Academy of. Science U.S.A., 97, 7700-7703.

2 responses to this post.

  1. Posted by anto_dwiasmoro@yahoo.co.uk on Mei 14, 2013 at 3:59 pm

    Artikel ini sangan bermanfaat bagi siapapun yang membacanya, semoga menjadi amal jariyah yang diterima Alloh SWT, dan merupakan amal ibadah yang sangat bermanfaat bagi pengembangan ilmu dalam mengembangbiakan tanaman dengan Trasngenik.
    Terima kasih dan semoga anda ikhlas ilmu ini dimanfaatkan oleh sesamamu.

    Salam dan Hormat,

    Sukirno DP., FKT-UGM

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: