JENIS KOMPOS YANG DAPAT MENEKAN PATOGEN

Muhammad Hatta

 

Pendahuluan

Dalam artikelnya yang berjudul “Review on Compost as an Inducer of Disease Suppression in Plants Grown in Soilless Culture”, Aviles et al. (2011) mereview bahan asal dan kondisi kompos yang terkait dengan kemampuan kompos dalam menekan perkembangan patogen. Berikut adalah ringkasan penjelasannya.

Karakteristik fisik dan komposisi kimiawi kompos memegang peran penting terhadap daya tekan kompos terhadap patogen. Kedua faktor ini tidak hanya mempengaruhi jenis dan jumlah mikroorganisme, tetapi juga mempengaruhi patogen, kesehatan akar tanaman, dan status hara tanaman.

Sebagaimana aksi mikroorganisme yang terjadi terhadap penekanan patogen pada tanah, aksi serupa terjadi juga pada kompos. Kedua aksi tersebut adalah aksi spesifik dan dan aksi umum. Pada aksi penekanan spesifik, hanya sedikit spesies yang terlibat. Sebaliknya, pada aksi umum, banyak ragam mikroorganisme yang bekerja sama.

Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi daya tekan kompos terhadap patogen.

Karakteristik Fisik Kompos

Kapasitas udara kompos mempengaruhi pathogen. Kompos yang memiliki kapasitas udara yang lebih tinggi memiliki pengaruh positif terhadap daya tekan terhadap pathogen. Sebaliknya, kompos dengan kapasitas udara yang buruk maka buruk pula daya tekannya terhadap pathogen. Selain kapasitas udara, potensial air merupakan faktor yang juga penting terkait dengan perkembangan penyakit. Potensial air yang negatif menghambat pelepasan spora beberapa Phytoptora spp. Oleh karena itu, untuk mengurangi serangan penyakit busuk akar, perlu dicari komponen dari media kompos yang sarang dan idak terlalu lembab. Sebagai contoh, kompos berbahan kulit kayu umumnya memiliki kapasitas udara > 25% dan laju perkolasi > 2,5 cm per menit dan kompos ini menekan penyakit busuk akar.

pH

Mayoritas penyakit busuk akar tertekan pada pH yang rendah. pH rendah menurunkan pembentukan sporangium dan pelepasan dan pergerakan spora. Akan tetapi, pH tinggi juga dapat menekan patogen seperti penyakit layu Fusarium. Kelihatnnya pH terkait dengan ketersedian unsur hara pada media. pH mengurangi ketersediaan unsur hara seperti P, Mg, Mn, Cu, Zn, dan Fe pada media organik dan patogen lebih rentan terhadap ketidaktersediaan unsur hara tersebut daripada tanaman.

Rasio lignin/selulosa

Rasio lignin/selulosa dari bahan kompos mempengaruhi lama waktu proses pengomposan. Sebagai contoh kulit kayu pinus memiliki kandungan lignin yang tinggi dan selulosa yang rendah dan tidak segera terdekomposisi. Pada kondisi seperti ini, kulit pinus ini tidak banyak memobilisasi unsur N. Terhadap penekanan patogen, pengaruh rasio lignin/selulosa ini sama seperti pengaruh pH, yaitu terkait dengan ketersediaan unsur hara. Oleh karena itu, kompos dengan rasio lignin/selulosa yang tinggi dapat menekan patogen, karena kompos ini lama melapuk, sehingga tidak tersedia unsur hara bagi patogen.

Sumber N, Rasio Amonium/Nitrat, dan Rasio C/N

Kadar nitrogen yang tinggi meningkatkan penyakit layu Fusarium. Kadar nitrogen yang tinggi pada jaringan Rhododendum berkorelasi positif terhadap kerentanan pada penyakit dieback. Selain itu, rasio ammonium terhadap nitrat yang tinggi meningkatkan penyakit layu Fusarium. Oleh karena itu, tambahan nitrat dapat menolong mengurangi penyakit layu Fusarium pada tanaman hortikulura.

Kompos yang memiliki rasio C/N yang tinggi umumnya menghasilkan kadar ammonium yang rendah sehingga juga menekan penyakit layu Fusarium pada tomat. Sebaliknya, kompos yang memiliki rasio C/N rendah, yang juga banyak merilis ammonium, meningkatkan serangan penyakit layu Fusarium.

Tingkat Kematangan Kompos

Tingkat kematangan kompos sangat mempengaruhi tingkat penekanannya terhadap penyakit. Kompos yang masih mentah tidak memiliki daya tekan terhadap penyakit dumping-off pada kecambah mentimun, sementara kompos yang matang mampu menekan penyakit tersebut. Contoh lain, bahan organik yang masih segar tidak memiliki kontrol biologi terhadap R.solani, sementara pada kompos yang matang dimana kandungan haranya seperti glukosa rendah, R. solani terbunuh oleh parasit dan kompetitor biologi lainnya. Potensi kompos dalam menekan penyakit layu Fusarium pada melon dapat berlangsung setidaknya selama setahun dalam pelbagai tempat simpan tanpa kehilangan potensinya

Akan tetapi, bila kompos sudah terlalu matang, maka kompos tidak lagi mendukung aktivitas pengendalian biologi, sehingga potensi daya tekan terhadap penyakit menjadi hilang. Sebagai contoh, gambut yang berwarna lebih gelap dan telah sangat terdekomposisi memiliki aktivitas biologi yang rendah, sehingga kondusif bagi penyakit busuk akar Phytium dan Phytophtora.

Daftar Pustaka

Aviles, M., C. Borrero, and M. I. Trillas. 2011. Review on Compost as an Inducer of Disease Suppression in Plants Grown in Soilless Culture. Dynamic Soil, Dynamic Plant 5 (Special Issue 2), 1 – 11.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: