Posts Tagged ‘sawah’

RENCANA PENANAMAN PADI SRI

Saya membaca di banyak rubrik bahwa padi SRI banyak sekali kelebihannya dibandingkan dengan penanaman badi biasa. Saya awalnya tidak begitu yakin, tetapi akhirnya timbul juga rasa penasaran terhadap padi SRI ini. Tahun ini saya akan melakukan percobaan penanaman padi SRI. Ini saya lakukan dengan beberapa tujuan, yaitu 1) ingin memastikan kebenaran informasi mengenai padi SRI ini 2) dengan banyaknya keuntungan dari padi SRI ini, saya ingin melakukan demo agar petani bisa melihat tata cara penanaman padi SRI di lapangan 3) ingin membantu pemerintah mengamankan ketersediaan pangan terutama beras.

Berikut adalah rencana penanaman padi SRI

Pendahuluan
Desa Cot Cut terletak di wilayah Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, lebih kurang 7 km dari Kota Banda Aceh. Sebagian besar penduduk desa ini bermatapencaharian sebagai petani padi.
Bagi masyarakat Desa Cot Cut bertanaman padi sudah merupakan pekerjaan wajib dan menjadi tumpuan hidup sebagian warga. Selain itu, bagi warga desa ini, padi merupakan komoditi yang dapat memberikan rasa aman. Bila padi masih tersedia di rumah, keluarga merasa sangat aman dan nyaman dalam menjalankan kehidupannya.
Pertanian padi di desa ini sebagian besar berada pada lahan sawah yang beririgasi semi teknis dan sebagian lainnya tanah hujan. Luas lahan sawah di desa ini mencapai setengah dari luas desa ini, yaitu sekitar 500 ha. Namun demikian, umumnya, para petani memiliki luas lahan sawah yang terbatas, yaitu antara 2000 m2 sampai 10000 m2. Bahkan, ada juga sebagian petani yang sama sekali tidak memiliki lahan sendiri. Biasanya, petani padi ini menggunakan sawah sewaan, dengan sistem sewa 2 : 1 (dua bagian panen untuk petani dan satu bagian panen untuk pemilik sawah).
Produktivitas sawah di desa ini juga masih tergolong rendah. Rata-rata hasil padi per hektar per musim tanam sekitar 4 – 5 ton. Produktivitas seperti ini telah berlangsung sangat lama tanpa ada tendensi untuk meningkat. Peningkatan produktivitas padi di daerah ini akan sangat sulit terjadi apabila tidak ada inovasi baru.
Hasil pengamatan kami di lapangan mengindikasikan bahwa ada beberapa penyebab mengapa produktivitas padi di daerah ini sulit meningkat. Salah satu penyebab adalah petani tidak mempunyai keberanian dan pengetahuan untuk mengusahakan dengan cara baru. Ada kesan bahwa cara menanam padi tidak bisa diubah sebagaimana yang sekarang ini dilakukan. Pendapat bahwa padi harus ditanam dalam air sangat melekat kuat dipikiran para petani. Padahal kita tahu bahwa padi sebenarnya bukanlah tanaman air.
Masih banyak hal lain yang juga ikut menyebabkan sulitnya meningkatkan produktivitas padi. Antara lain adalah pupuk yang dipakai pada tanaman padi. Hampir semua petani di desa ini menganggap bahwa padi hanya memerlukan pupuk urea. Padahal kita tahu bahwa tanaman padi sebagaimana halnya dengan tanaman lain juga memerlukan unsur hara lainnya dan karenanya memerlukan pemupukan yang seimbang. Hal yang sama juga terjadi terhadap pupuk organik. Pupuk organik dianggap tidak diperlukan. Padahal para ahli menyatakan bahwa pupuk organik sangat bermanfaat baik untuk kesuburan tanah maupun untuk pertumbuhan dan hasil tanaman.
Kondisi ini tentu tidak menguntungkan. Produktivitas sawah di daerah ini menjadi statis dan rendah. Petani tidak dapat meningkatkan pendapatannya sehingga tidak ada perbaikan kesejahteraan. Petani miskin menjadi tetap miskin.
Berdasarkan pengamatan dan analisis ini, kami bermaksud melakukan suatu pengabdian kepada masyarakat di desa ini untuk membuka wawasan petani bagi peningkatan produktivitas tanaman khususnya tanaman padi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan contoh cara bertaman padi alternatif, yaitu bertanam padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification).
Metode SRI ini sangat ramah lingkungan, sangat hemat dalam pemakaian air dan ekonomis dalam penggunaan benih. Menurut beberapa hasil penelitian, hasil yang diperoleh dengan sistem SRI ini sangat tinggi, lebih tinggi daripada dengan metode konvensional biasa. Hasil penelitian oleh Nissanka dan Bandara (2004) menunjukkan bahwa metode SRI memberikan pertumbuhan yang lebih kuat, menghasilkan bulir yang lebih banyak, dan produksi bahan kering yang lebih tinggi daripada meode konvensional biasa. Zheng et al. (2004) menyatakan bahwa sistem SRI dapat menghasilkan padi sampai 12 ton ha-1. Lebih lanjut Ramanujan (2006) menyatakan bahwa sementara metode konvensional hanya memberikan rata-rata hasil antara 2 – 4 ton ha-1, metode SRI dapat menghasilkan rata-rata hasil antara 7 – 8 ton ha-1, bahkan sampai 15 ton ha-1.

Perumusan Masalah
Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, ada beberapa hal yang perlu diperkenalkan pada petani di desa ini. Hal-hal tersebut antara lain teknik penyemaian, pemindahan dan penanaman, pemupukan (organik dan anorganik), pengairan, dan penyiangan. Berikut rumusan masalah petani di desa ini.
1. Petani tidak mengenal dan menguasai teknik budi daya padi alternatif seperti metode SRI yang berbeda dengan metode konvensional. Perbedaan metode SRI terletak pada penyemaian, pemindahan dan penanaman, pemupukan (organik dan anorganik), pengairan, dan penyiangan.
2. Petani belum memiliki wawasan dan pengetahuan yang memadai berkenaan dengan hubungan sebab akibat dari setiap tahapan kegiatan budi daya yang dikerjakan.
3. Petani belum memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekelilingnya yang murah dan ramah lingkungan sebagai alternatif untuk meningkatkan produktivitas lahan dan hasil padi, seperti penggunaan pupuk kandang atau kompos yang banyak terdapat di sekelilingnya.

Tinjauan Pustaka
1. Syarat Tumbuh Padi
Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 m dpl dengan suhu 19 – 27 0C, memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan (Prabowo, 2007). Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500 – 2000 mm (Warintek Bantul, 2008)
Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang berlumpur. Ketebalan lapisan atasnya yang baik adalah antara 18 -22 cm dengan pH antara 4 -7 (Prabowo, 2007; Warintek Bantul, 2008).

2. Metode SRI
SRI pertama sekali dikembangkan di Madagaskar pada tahun 1980an oleh Jesuit dan telah mencetak keberhasilan di Afrika, Amerika Latin, and Asia, termasuk India and China (Haviland, 2005). Metode ini tidak dikenal di luar Madagaskar sampai tahun 1997. Metode SRI memerlukan sedikit air dan sedikit input namun memberikan hasil yang lebih tinggi (The SRI Group, 2006; Ikisan, 2000).
Metode SRI hanya memerlukan setengah jumlah air daripada metode konvensional. Pada metode SRI, tanaman tidak digenangi air tetapi cukup dilembabkan selama pertumbuhan vegetatif. Pada fase akhir vegetatif, lahan sawah cukup digenangi air sedalam 2,5 cm.
Pada metode SRI, diperlukan jumlah benih yang sedikit (5 – 10 kg/hektar) dan juga sedikit tanaman per unit luas lahan (jarak tanam 25 x 25 cm), sementara metode biasa memerlukan 25 – 40 kg per hektar (The SRI Group, 2006; AAK, 1990).
Metode SRI akan menghasilkan tanaman dengan akar yang banyak, anakan yang kuat dan banyak, tidak rebah, malai yang besar, bulir berisi dan bulir yang lebih berat, dan tanaman tahan terhadap hama dan penyakit. Perkembangan anakan padi pada metode ini sangat menonjol. Jumlah 30 – 50 anakan mudah dicapai, bahkan jumlah 100 anakan atau lebih dapat dicapai bila metode SRI diterapkan dengan baik (Ikisan, 2000).

Tujuan Kegiatan
Tujuan pelaksanaan pengabdian ini adalah agar petani memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang memadai mengenai budi daya tanaman padi metode SRI untuk meningkatkan produksi padi yang sekaligus dapat meningkatkan pendapatan petani. Ini dapat dicapai dengan membuat demonstrasi dan memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada petani tentang metode budidaya tanaman padi metode SRI secara langsung di lapangan.

Manfaat Kegiatan
Dari kegiatan ini diharapkan petani akan memperoleh manfaat antara lain:
1. Petani mengenal dan dapat melakukan bercocok tanam padi alternatif dengan benar
2. Petani mengerti dan paham tentang semua tahap kegiatan penanaman padi metode SRI yang dikerjakan.
3. Petani bertambah pendapatannya yang merupakan hasil dari pengurangan input dan penambahan hasil.

Khalayak Sasaran
Sasaran dari pengabdian ini adalah petani padi di Desa Cot Cut yang berlokasi di sekitar bantaran Krueng Aceh. Jumlah petani yang akan dilibatkan langsung sebanyak lima kepala keluarga. Dengan kegiatan ini diharapkan petani akan bertambah wawasan dan pengetahuannya, meningkat produksi padinya, dan bertambah penghasilannya sehingga dapat menjadi contoh teladan bagi petani lainnya di sekitar daerah tersebut.

Metode Penerapan Ipteks
Metode kegiatan yang akan digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah pembuatan demplot, penyuluhan, dan bimbingan penerapan langsung budi daya tanaman padi metode SRI di lapangan. Demplot direncanakan seluas 2000 m2. Penyuluhan dan bimbingan pelaksanaan metode SRI secara rinci akan langsung diperagakan di demplot tersebut.
Garis besar kegiatan teknik budi daya tanaman padi metode SRI adalah sebagai berikut:
1. Pengolahan tanah dilakukan dengan menggunakan traktor, dua kali bajak sedalam 18 cm. Pengolahan tanah dilakukan secara basah.
2. Lahan sawah kemudian digaru dan diratakan.
3. Lahan digenangi selama seminggu untuk menekan pertumbuhan gulma kemudian dikeringkan.
4. Saluran drainase dibuat setiap jarak 5 m dengan lebar 50 cm dan dalam 30 cm.
5. Pupuk kandang diberikan dua minggu sebelum tanam dengan dosis 10 ton ha-1. Pemberiannya dilakukan secara sebar dan kemudian digaru.
6. Dua minggu sebelum tanam, penyemaian benih dipersiapkan. Benih padi sebanyak 2 kg dimasukkan dalam air. Biji padi yang terapung dibuang, sedangkan biji yang tenggelam dipakai.
7. Biji yang terpilih direndam dalam air selama 24 jam. Setelah itu, benih padi tersebut ditiriskan dan dimasukkan dalam karung goni selama dua hari untuk proses perkecambahan.
8. Biji yang telah berkecambah kemudian disemai ditempat persemaian. Tempat persemaian dipersiapkan 7 hari sebelumnya, berupa lahan sawah kering dan diberikan pupuk kandang dengan dosis 2 kg/m2. Luas tempat persemaian sekitar 40 m2 dengan rate 50 g/ m2.
9. Persemaian disiram 2 kali sehari dan setelah 10-12 hari bibit dipindahtanamkan.
10. Penaman dilakukan dengan jarak 25 cm x 25 cm.
11. Pupuk anorganik yang diberikan berupa urea 200 kg/ha, SP36 100 kg/ha, dan KCl 100 kg/ha (AAK, 1990; Departemen Transmigrasi, 1986).
12. Pemupukan pertama dilakukan dua minggu setelah tanam, pupuk kedua diberikan umur empat minggu setelah tanam, dan pupuk ketiga diberikan enam minggu setelah tanam. Pupuk Urea diberikan tiga kali, yaitu setengah dosis pada pemupukan pertama dan masing-masing seperempat dosis pada pemupukan kedua, dan ketiga. Pupuk TSP dan KCl diberikan sekaligus pada pemupukan pertama.
13. Pengairan dilakukan dengan cara memasukkan air ke sawah sampai keadaan macak-macak. Pengairan dilakukan seminggu sekali.
14. Penyiangan gulma dilakukan seminggu sekali.
15. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan bila terlihat gejala serangan hama dan penyakit. Insektisida yang akan dipakai adalah Decis 2,5 EC dan fungisida Dithane M-45.
16. Pemanenan dilakukan pada saat buah padi telah bewarna kuning, sekitar 30 hari setelah keluar bunga.

Rancangan Evaluasi
Tingkat keberhasilan dari kegiatan ini akan dievaluasi dengan menggunakan parameter sebagai berikut.
1. Keikutsertaan dan respons petani selama kegiatan berlangsung.
2. Penambahan pengetahuan dalam teknik budi daya padi metode SRI.
3. Produksi padi yang diperoleh
4. Keinginan petani untuk menerapkan metode SRI dan memanfaatkan sumber bahan yang tersedia di lingkungannya termasuk pupuk kandang.
5. Keinginan petani lain di sekitar untuk mencoba menggunakan metode SRI sebagaimana yang dipakai dalam kegiatan ini.

Lokasi pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah di Desa Cot Cut. Desa ini terletak di wilayah Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, lebih kurang 7 km dari Kota Banda Aceh. Dari Kampus Fakultas Pertanian, Unsyiah, desa ini hanya berjarak sekitar 3 km di sebelah selatan kampus.

Artikel hasil percobaan metode SRI ini dapat anda pesan

 

Caranya Sebagai Berikut:

1. Pesan ke email : hatta_ksg@yahoo.com atau hatta2ksg@gmail.com atau ke HP: 081360016837

2.   Kirim donasi anda minimum Rp 50.000,- ke rekening  No : 1050095020990   Bank Mandiri
3.   Konfirmasikan kiriman anda ke No. Hp 081360016837

Selain artikel ini, anda diperkenankan memilih bonus 2 buah artikel lainnya dari blog ini atau blog: hatta2fp.wordpress

Artikel akan segera dikirim ke alamat email anda
Catatan: pengiriman hanya dengan email

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 317 pengikut lainnya.