<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dunia Pertanian</title>
	<atom:link href="http://emhatta.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://emhatta.wordpress.com</link>
	<description>Filosofis, praktis, dan futuris</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Nov 2011 05:38:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='emhatta.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dunia Pertanian</title>
		<link>http://emhatta.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://emhatta.wordpress.com/osd.xml" title="Dunia Pertanian" />
	<atom:link rel='hub' href='http://emhatta.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>BIJI KACANG-KACANGAN  SEBAGAI PUPUK NABATI ALTERNATIF SETARA PUPUK NPK</title>
		<link>http://emhatta.wordpress.com/2011/04/11/biji-kacang-kacangan-sebagai-pupuk-nabati-alternatif-setara-pupuk-npk/</link>
		<comments>http://emhatta.wordpress.com/2011/04/11/biji-kacang-kacangan-sebagai-pupuk-nabati-alternatif-setara-pupuk-npk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Apr 2011 08:48:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Hatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hortikultura]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>
		<category><![CDATA[cabe rawit]]></category>
		<category><![CDATA[dedak]]></category>
		<category><![CDATA[kacang hijau]]></category>
		<category><![CDATA[kacang kedele]]></category>
		<category><![CDATA[kacang merah]]></category>
		<category><![CDATA[pupuk nabati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://emhatta.wordpress.com/2011/04/11/biji-kacang-kacangan-sebagai-pupuk-nabati-alternatif-setara-pupuk-npk/</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Tulisan lengkap mengenai penggunaan biji kacang-kacangan sebagai pupuk nabati alternatif telah dimuat dalam jurnal Agrobio Vol.2 no.2 Nop. 2010.  Di sini, saya berikan sarinya. Pertanian organik merupakan pertanian masa depan. Lambat laun, pertanian organik akan menggeser pertanian konvensional. Ini terjadi karena masyarakat mulai sadar bahwa pertanian organik lebih bersahabat dengan manusia dan alam daripada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emhatta.wordpress.com&amp;blog=4139957&amp;post=161&amp;subd=emhatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Tulisan lengkap mengenai penggunaan biji kacang-kacangan sebagai pupuk nabati alternatif telah dimuat dalam jurnal Agrobio Vol.2 no.2 Nop. 2010.  Di sini, saya berikan sarinya.</p>
<p>Pertanian organik merupakan pertanian masa depan. Lambat laun, pertanian organik akan menggeser pertanian konvensional. Ini terjadi karena masyarakat mulai sadar bahwa pertanian organik lebih bersahabat dengan manusia dan alam daripada pertanian konvensional yang banyak sekali menggunakan bahan kimia sintetis yang sangat berbahaya. Gaya hidup sehat dengan slogan “<em>Back to Nature</em>” telah menjadi tren baru dan meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non alami, seperti pupuk, pestisida kimia sintetis dan hormon tumbuh dalam produksi pertanian.</p>
<p>Di masa depan, selain bergizi tinggi, unsur sehat dan ramah lingkungan pada produk pangan akan menjadi issu penting. Menurut Litbang (2002), metode pertanian organik menjamin produk yang dihasilkan aman dikonsumsi, kandungan nutrisinya tinggi, dan ramah lingkungan. Keinginan konsumen untuk mendapatkan pangan seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia akan meningkat pesat.</p>
<p>Namun demikian, di Indonesia, perkembangan pertanian organik agak lamban. Petani masih ragu-ragu mengadopsi metode pertanian ini. Ini disebabkan antara lain oleh produksi panen yang diberikan oleh metode pertanian organik sering rendah, tidak setinggi hasil dari pertanian konvensional. Menurut Organik Hijau (2010), kita sering mendengar keluhan petani Indonesia bahwa produktivitas hasil panen pertanian organik rendah dan biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan penghasilan yang didapat.</p>
<p>Keluhan rendahnya produktivitas ini dapat dimaklumi karena pertanian organik “mengharamkan” pemakaian input sintetis, termasuk unsur pupuk yang sangat penting dalam produksi pertanian. Sebagai pengganti pupuk sintetis, orang menggunakan pupuk kompos atau pupuk kandang. Menurut Efendi (2010) sumber pupuk pada pertanian organik umumnya berasal dari berbagai biomassa atau bahan organik, seperti sisa tanaman atau hewan.</p>
<p>Bahan organik yang umum digunakan sebagai pupuk sayangnya mempunyai karakteristik mendua. Di satu sisi, pupuk organik tersebut memiliki sifat yang baik, tetapi di sisi lain, pupuk organik tersebut juga memiliki sifat buruk. Menurut Rosmarkam dan Yuwono (2002) salah satu sifat buruk dari pupuk organik adalah rasio C/N-nya tinggi. Konsekuensi rasio C/N tinggi adalah unsur hara terutama unsur N yang sangat diperlukan oleh tanaman menjadi tidak tersedia bagi tanaman, karena habis dipakai oleh mikroorganisme. Selain itu, secara umum, kandungan unsur hara makro bahan organik yang banyak dipakai petani juga rendah.</p>
<p>Masalah produktivitas tanaman pada pertanian organik ini agaknya berlaku umum. Ini berlaku bagi tanam pangan, perkebunan, dan hortikultura. Pada tanaman hortikultura, khususnya cabe rawit, penerapan pertanian organik juga masih jauh dari maju. Bahkan, sejauh peneliti ketahui, budidaya cabe rawit organik belum pernah terdengar. Keadaan ini perlu dicari jalan keluarnya agar pertanian organik dapat berkembang dengan baik.</p>
<p>Salah satu solusi adalah mencari jenis pupuk organik alternatif baru. Jenis pupuk alternatif ini haruslah memiliki karakteristik yang berbeda dengan bahan organik pada umumnya. Untuk itu, ada beberapa jenis bahan alami non sintetis yang dapat dijadikan sebagai kandidat. Di antara yang potensial adalah biji-bijian dari kacang-kacangan seperti biji kedelai, kacang merah, kacang tanah, dan kacang panjang. Kandidat lainnya adalah produk turunan dari kacang-kacangan, antara lain tempe. Kemungkinan lainnya adalah produk pakan, seperti dedak dan pakan ayam.</p>
<p>Biji kacang-kacangan memiliki kandungan unsur hara makro yang relatif tinggi dibanding dengan bahan organik umum lainnya. Sebagai contoh adalah kacang merah. Menurut Sinergifitness (2010), kacang merah mengandung vitamin B, fosfor, mangan, besi, thiamin, dan protein. Setiap 100 g kacang merah mengandung 9 g protein. Contoh lain adalah kedelai. Menurut Wikipedia (2010) kedelai juga banyak mengandung unsur hara. Setiap 100 g kedelai, terkandung 36,49 g protein, 704 mg fosfor, 1797 mg kalium, dan 280 mg magnesium.</p>
<p>Produk turunan dari kedelai dan pakan juga kaya akan unsur hara. Tempe misalnya mengandung banyak unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Menurut Koswara (2010) tempe mengandung kadar <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Protein">protein</a>, <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Lemak">lemak</a>, dan karbohidratnya yang sebanding dengan kedelai segar.</p>
<p>Dedak juga merupakan bahan yang potensial. Menurut Zulle (2008) dedak berlimpah ruah ketersediaannya dan juga mempunyai kandungan hara yang tinggi seperti lipid, protein, karbohidrat, vitamin, mineral dan juga serat. Menurut BB pascapanen (2010) dedak segar mengandung 12 – 15 persen protein dan 20 – 23 persen karbohidrat.</p>
<p>Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari jenis pupuk organik alternatif yang setara dan dapat menggantikan pupuk anorganik bagi pertumbuhan tanaman.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>HASIL </strong><strong>PENELITIAN</strong></p>
<p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur cabe rawit 3 minggu setelah tanam (MST), tidak ada perbedaan yang berarti antara pertumbuhan tanaman cabe rawit yang dipupuk dengan NPK dibandingkan dengan pertumbuhan tanaman cabe rawit yang dipupuk dengan biji kacang-kacangan, termasuk tempe. Data rata-rata pertumbuhan cabe rawit umur 3 minggu setelah tanam disajikan pada Tabel 1.</p>
<p>Data pada Tabel 1 juga memperlihatkan bahwa kondisi pertumbuhan ini konsisten pada semua peubah, baik tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, maupun indeks pertumbuhan relatif (IPR). Ini menunjukkan bahwa indeks pertumbuhan relatif dapat dipakai sebagai wakil dari peubah lainnya.</p>
<p>Pemakaian sebuah peubah yang representatif lebih menguntungkan dibanding dengan banyak peubah, karena lebih mudah dan sederhana dalam pembahasannya. Untuk itu, pembahasan selanjutnya lebih banyak memakai peubah indeks pertumbuhan relatif daripada peubah lainnya.</p>
<p>Bila dilihat dari peubah indeks pertumbuhan relatif, maka terlihat diantara jenis biji kacang-kacangan yang dicoba, justru tempe memberikan pertumbuhan yang paling baik, diikuti secara berturut-turut oleh kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan kacang merah.</p>
<p>Tabel 1 juga memperlihatkan bahwa kacang panjang dan dedak memberikan pertumbuhan tanaman cabe rawit yang terburuk. Bahkan kendatipun tidak berbeda secara nyata, namun secara visual pertumbuhan yang diberikannya lebih rendah dibandingkan dengan tanaman tanpa pupuk sekalipun.</p>
<p>Tabel 1. Rata-rata pertumbuhan cabe rawit umur 3 MST</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="129">Perlakuan</td>
<td width="107">Tinggi tanaman</td>
<td width="115">Diameter batang</td>
<td width="114">Jumlah daun</td>
<td width="91">IPR</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Tanpa pupuk</td>
<td valign="bottom" width="107">14.7 ab</td>
<td valign="bottom" width="115">2.27 abc</td>
<td valign="bottom" width="114">11.00 ab</td>
<td valign="bottom" width="91">0.99 ab</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">NPK</td>
<td valign="bottom" width="107">18.0 a</td>
<td valign="bottom" width="115">2.83 a</td>
<td valign="bottom" width="114">13.67 a</td>
<td valign="bottom" width="91">1.22 a</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Kedelai</td>
<td valign="bottom" width="107">14.9 ab</td>
<td valign="bottom" width="115">2.40 abc</td>
<td valign="bottom" width="114">12.00 ab</td>
<td valign="bottom" width="91">1.04 ab</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Kacang hijau</td>
<td valign="bottom" width="107">15.1 ab</td>
<td valign="bottom" width="115">2.30 abc</td>
<td valign="bottom" width="114">11.00 ab</td>
<td valign="bottom" width="91">1.00 ab</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Kacang merah</td>
<td valign="bottom" width="107">14.4 ab</td>
<td valign="bottom" width="115">2.23 abc</td>
<td valign="bottom" width="114">9.67 ab</td>
<td valign="bottom" width="91">0.93 ab</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Kacang tanah</td>
<td valign="bottom" width="107">15.0 ab</td>
<td valign="bottom" width="115">2.53 abc</td>
<td valign="bottom" width="114">10.67 ab</td>
<td valign="bottom" width="91">1.02 ab</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Kacang panjang</td>
<td valign="bottom" width="107">12.6 b</td>
<td valign="bottom" width="115">1.97 c</td>
<td valign="bottom" width="114">8.67 b</td>
<td valign="bottom" width="91">0.83 b</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Tempe</td>
<td valign="bottom" width="107">16.1 ab</td>
<td valign="bottom" width="115">2.73 abc</td>
<td valign="bottom" width="114">12.00 ab</td>
<td valign="bottom" width="91">1.11 ab</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Dedak</td>
<td valign="bottom" width="107">13.2 ab</td>
<td valign="bottom" width="115">2.10 bc</td>
<td valign="bottom" width="114">8.67 b</td>
<td valign="bottom" width="91">0.86 b</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">BNT0.05</td>
<td valign="bottom" width="107">5.0</td>
<td valign="bottom" width="115">0.66</td>
<td valign="bottom" width="114">4.00</td>
<td valign="bottom" width="91">0.31</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5 % (uji BNT). IPR = indeks pertumbuhan relatif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hasil pengamatan pertumbuhan cabe umur 5 MST menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman cabe tidak jauh berbeda dengan pertumbuhan umur 3 MST. Secara umum, tidak ada perbedaan yang berarti diantara jenis pupuk dari biji kacang-kacang terhadap peubah-peubah pertumbuhan, baik tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, maupun indeks pertumbuhan relatif. Data rata-rata pertumbuhan cabe rawit umur 5 MST disajikan pada Tabel 2.</p>
<p>Namun demikian, susunan peringkat pada indeks pertumbuhan relatif (IPR), terjadi perubahan. Pada IPR 5 MST, diantara jenis biji kacang yang dicobakan, ternyata kacang hijau memberikan pertumbuhan yang terbaik, disusul oleh kedelai, kacang merah, tempe, dan kacang tanah.</p>
<p>Tabel 2. Rata-rata pertumbuhan cabe rawit umur 5 MST</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="129">Perlakuan</td>
<td width="107">Tinggi tanaman</td>
<td width="122">Diameter batang</td>
<td width="108">Jumlah daun</td>
<td width="90">IPR</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Tanpa pupuk</td>
<td valign="bottom" width="107">20.83 ab</td>
<td valign="bottom" width="122">2.80 ab</td>
<td valign="bottom" width="108">18.33 ab</td>
<td valign="bottom" width="90">0.91 ab</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">NPK</td>
<td valign="bottom" width="107">28.50 a</td>
<td valign="bottom" width="122">3.63 a</td>
<td valign="bottom" width="108">21.00 ab</td>
<td valign="bottom" width="90">1.15 a</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Kedelai</td>
<td valign="bottom" width="107">25.50 ab</td>
<td valign="bottom" width="122">3.53 a</td>
<td valign="bottom" width="108">20.67 ab</td>
<td valign="bottom" width="90">1.09 ab</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Kacang hijau</td>
<td valign="bottom" width="107">28.83 a</td>
<td valign="bottom" width="122">3.30 a</td>
<td valign="bottom" width="108">24.00 a</td>
<td valign="bottom" width="90">1.17 a</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Kacang merah</td>
<td valign="bottom" width="107">26.50 ab</td>
<td valign="bottom" width="122">3.20 a</td>
<td valign="bottom" width="108">20.33 ab</td>
<td valign="bottom" width="90">1.06 ab</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Kacang tanah</td>
<td valign="bottom" width="107">25.00 ab</td>
<td valign="bottom" width="122">3.20 a</td>
<td valign="bottom" width="108">20.33 ab</td>
<td valign="bottom" width="90">1.04 ab</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Kacang panjang</td>
<td valign="bottom" width="107">17.77 b</td>
<td valign="bottom" width="122">1.83 ab</td>
<td valign="bottom" width="108">15.00 b</td>
<td valign="bottom" width="90">0.70 b</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Tempe</td>
<td valign="bottom" width="107">27.00 ab</td>
<td valign="bottom" width="122">3.20 a</td>
<td valign="bottom" width="108">20.67 ab</td>
<td valign="bottom" width="90">1.07 ab</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">Dedak</td>
<td valign="bottom" width="107">18.50 ab</td>
<td valign="bottom" width="122">2.77 b</td>
<td valign="bottom" width="108">15.00 ab</td>
<td valign="bottom" width="90">0.81 ab</td>
</tr>
<tr>
<td valign="bottom" width="129">BNT 0.05</td>
<td valign="bottom" width="107">10.46</td>
<td valign="bottom" width="122">1.16</td>
<td valign="bottom" width="108">8.91</td>
<td valign="bottom" width="90">0.40</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Keterangan: Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama berbeda tidak nyata pada taraf 5 % (uji BNT). IPR = indeks pertumbuhan relatif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tabel 2 juga menunjukkan bahwa kacang panjang segar memberikan pertumbuhan cabe rawit yang terburuk, yang diikuti oleh dedak. Secara visual, IPR kacang panjang dan dedak lebih rendah daripada IPR tanpa pupuk. Keadaan ini serupa dengan keadaan pertumbuhan pada umur 3 MST.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pembahasan</strong></p>
<p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji kacang-kacangan yang dicobakan, termasuk produk turunannya (kacang hijau, kedelai, kacang merah, kacang tanah, dan tempe) tidak berbeda nyata dengan pupuk NPK terhadap pertumbuhan tanaman cabe rawit, baik pada umur pertumbuhan 3 MST maupun 5 MST. Dengan kata lain, biji kacang-kacangan memberikan pertumbuhan yang setara dengan pupuk NPK.</p>
<p>Hasil ini menunjukkan bahwa unsur hara dalam kacang-kacangan dapat juga berperan sebagaimana unsur hara dalam pupuk NPK. Sebagai kita ketahui bahwa biji kacang-kacangan kaya akan unsur hara, terutama protein yang dibutuhkan oleh tanaman. Koswara (2010) menyatakan bahwa kacang-kacangan dikenal sebagai sumber protein dan juga potensial sebagai sumber zat gizi lain selain protein, yaitu mineral, vitamin B, dan karbohidrat. Demikian juga tempe banyak mengandung unsur hara. Menurut NSRL (2010) tempe adalah sumber protein, lemak tak jenuh, lesitin, kalsium, besi, magnesium, kalium, vitamin B. Kandungan protein tempe dapat mencapai 19 persen.</p>
<p>Namun demikian, penelitian juga menunjukkan bahwa tempe terlihat memiliki pengaruh yang lebih baik pada awal pertumbuhan cabe dan memperlihatkan pengaruh yang menurun pada pertumbuhan lanjut. Ini menunjukkan bahwa tempe cepat kehilangan pengaruh baiknya. Hal ini diduga tempe mengalami degradasi yang cepat sehingga melepaskan unsur hara, terutama N, lebih cepat bagi tanaman. Akan tetapi, di lain pihak, tempe cepat kehabisan unsur hara sehingga tidak tersedia lagi bagi tanaman di umur lanjut. Menurut Wikipedia (2010) beberapa penelitian menunjukkan bahwa zat gizi tempe lebih mudah dicerna, diserap, dan dimanfaatkan tubuh dibandingkan dengan yang ada dalam kedelai. Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia.</p>
<p>Penelitian juga memperlihatkan bahwa, biji kacang-kacangan terlihat memberikan pertumbuhan lebih baik pada umur 5 MST daripada umur 3 MST. Ini menunjukkan bahwa biji kacang-kacangan melepaskan unsur hara secara lambat, terutama bila dibandingkan dengan pupuk NPK atau tempe. Hal ini diduga karena biji kacang-kacangan selain mengandung protein juga mengandung serat yang cukup tinggi sehingga perlu waktu untuk perombakannya. Menurut Koswara (2010), kacang-kacang mengandung unsur serat yang cukup tinggi.</p>
<p>Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kacang panjang segar (bukan biji) dan dedak memberikan pertumbuhan yang kurang baik bagi pertumbuhan cabe rawit. Ini diduga bahwa baik kacang panjang maupun dedak memiliki rasio C/N yang sangat tinggi. Akibatnya, mikroorganisme tanah di sekitar tanaman terdorong merombak bahan tersebut dan berkompetisi dengan tanaman dalam hal pemakaian unsur hara. Menurut Rosmarkam dan Yuwono (2002), bahan organik yang mempunyai C/N tinggi akan diserang oleh mikroba untuk memperoleh energi dan unsur hara bagi pertumbuhan dan perkembangbiakannya.</p>
<p>Selain itu, jumlah bahan organik yang berlebihan dalam tanah juga berdampak negatif terhadap pertumbuhan akibat terjadinya penurunan pH tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat Sarief (1986) yang menyatakan bahwa jika bahan organik dalam tanah berlebihan, maka dapat menyebabkan tanah menjadi asam. Menurut Hanafiah (2005) Pada pH rendah, yaitu di bawah pH 6,5, terjadi defisiensi P, Ca, dan Mg, serta toksisitas B, Mn, Cu, Zn, dan Fe. Hal senada juga dinyatakan oleh Lingga (1994) bahwa derajat keasaman tanah yang diakibatkan oleh bahan organik yang berlebihan dapat menyebabkan pertumbuhan dan produksi tanaman menurun.</p>
<p>Akhirnya, hasil penelitian ini bisa menjawab keraguan petani akan produktivitas pertanian organik. Dengan menggunakan pupuk dari biji kacang-kacangan, produktivitas tanaman organiknya berpeluang untuk dapat dipertahankan setinggi produktivitas pertanian konvensional.</p>
<p>Dari hasil penelitian ini, ada beberapa jenis biji kacangan-kacangan yang potensial untuk digunakan dalam pertanian organik. Secara agronomi, kacang hijau, kacang kedelai, kacang tanah, dan kacang merah memiliki potensi yang sama untuk digunakan. Hal ini merujuk dari pertumbuhan cabe rawit yang diberikannya relatif tidak jauh berbeda.</p>
<p>Namun, secara ekonomi, kacang kedelai dan kacang merah kelihatannya lebih potensial. Ini terutama dilihat dari harga komoditas kacang tersebut. Harga kacang kedelai adalah yang paling murah, diikuti oleh kacang merah. Sebaliknya, kacang hijau adalah yang termahal.</p>
<p>Hal lain yang perlu juga diteliti lebih lanjut di masa mendatang adalah dosis dan waktu pemberiannya. Pada penelitian ini, dosis yang digunakan adalah 50 g per tanaman dengan sekali pemberian. Tentu ini bukanlah dosis yang sudah tepat. Sementara waktu pemberiannya adalah 7 hari setelah tanam yang juga belum tentu sudah tepat.</p>
<p>Khusus untuk dedak yang pada penelitian ini memberikan pertumbuhan yang paling buruk tidaklah harus dibuang begitu saja dari daftar bahan yang potensial. Dengan sedikit modifikasi atau praperlakuan, dedak yang jumlahnya berlimpah ruah di negeri ini, juga tetap merupakan bahan potensial untuk diteliti sebagai pupuk nabati organik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>SIMPULAN</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1. Biji kacang-kacangan yang dicobakan, yaitu kacang hijau, kedelai, kacang merah, kacang tanah, dan tempe tidak berbeda nyata dengan pupuk NPK terhadap pertumbuhan tanaman cabe rawit, baik pada umur pertumbuhan 3 MST maupun 5 MST.</p>
<p>2. Kacang-kacangan memberikan pertumbuhan lebih baik pada umur 5 MST daripada umur 3 MST.</p>
<p>3. Tempe memiliki pengaruh yang lebih baik pada umur 3 MST daripada umur 5 MST.</p>
<p>4. Kacang panjang segar dan dedak memberikan pertumbuhan yang kurang baik bagi pertumbuhan cabe rawit.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emhatta.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emhatta.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emhatta.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emhatta.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emhatta.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emhatta.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emhatta.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emhatta.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emhatta.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emhatta.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emhatta.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emhatta.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emhatta.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emhatta.wordpress.com/161/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emhatta.wordpress.com&amp;blog=4139957&amp;post=161&amp;subd=emhatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emhatta.wordpress.com/2011/04/11/biji-kacang-kacangan-sebagai-pupuk-nabati-alternatif-setara-pupuk-npk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9bcd6538340a9cb4d187ac4f8d20ba4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emhatta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>JAHE</title>
		<link>http://emhatta.wordpress.com/2010/12/06/jahe/</link>
		<comments>http://emhatta.wordpress.com/2010/12/06/jahe/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Dec 2010 04:17:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Hatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Obat]]></category>
		<category><![CDATA[Perkebunan]]></category>
		<category><![CDATA[jahe merah]]></category>
		<category><![CDATA[obat kuat]]></category>
		<category><![CDATA[rimpang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emhatta.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[ASAL USUL Jahe (Zingiber officinale Rosc.) adalah tanaman herba tahunan yang tergolong famili Zingiberaceae, dengan daun berpasang-pasangan   dua-dua   berbentuk   pedang   dan rimpang   seperti   tanduk, beraroma.  Tanaman ini diduga berasal dari India. MANFAAT Jahe  memiliki banyak manfaat. Bagian yang paling banyak bermanfaat adalah rimpangnya, sedangkan daun, batang, dan akarnya belum dimanfaatkan secara baik.  Kegunaan rimpang jahe [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emhatta.wordpress.com&amp;blog=4139957&amp;post=138&amp;subd=emhatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><strong>ASAL USUL</strong></p>
<p>Jahe (<em>Z</em><em>in</em><em>g</em><em>i</em><em>b</em><em>e</em><em>r</em><em> </em><em>o</em><em>f</em><em>f</em><em>i</em><em>c</em><em>i</em><em>na</em><em>l</em><em>e</em><em> </em>Rosc.) adalah tanaman herba tahunan yang tergolong famili Zingiberaceae, dengan daun berpasang-pasangan   dua-dua   berbentuk   pedang   dan rimpang   seperti   tanduk, beraroma.  Tanaman ini diduga berasal dari India.</p>
<p><strong>MANFAAT</strong></p>
<p>Jahe  memiliki banyak manfaat. Bagian yang paling banyak bermanfaat adalah rimpangnya, sedangkan daun, batang, dan akarnya belum dimanfaatkan secara baik.  Kegunaan rimpang jahe antara lain untuk minyak atsiri, oleoresin, bubuk jahe, asinan, sirup, manisan jahe, jahe  kristal  dan  anggur  jahe.  Asinan  jahe  merupakan  bahan  ekspor yang  potensial,  dibuat  dari  jahe  putih  besar  yang  dipanen  muda, dengan kadar serat rendah. Permen jahe, manisan, sirup, instan, serbat dan sekoteng berasal dari jahe putih kecil yang dipanen  tua.</p>
<p><strong>KHASIAT</strong></p>
<p>Jahe banyak digunakan untuk  bahan  baku  obat  tradisional  (jamu) yang dapat menjaga kebugaran badan.  Ramuan jahe merah dapat digunakan untuk obat sinusitis, bronchitis, kolera, rematik, asam urat, batu ginjal, demam, dan masuk angin.</p>
<p>Saat ini jahe juga mulai  digunakan  untuk  obat  fitofarmakologi  karena  kandungan gingerol-nya. Bahan aktif ini diisolasi dari ekstrak jahe yang bermanfaat untuk mengatasi rasa nyeri pada tulang, otot, dan sendi.  Secara umum rimpang jahe mengandung beberapa zat aktif yang berkhasiat (Tabel 1)</p>
<p>Tabel 1.  Zat aktif dan efek farmakologis-nya dalam rimpang jahe</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="49" valign="top">
<p style="text-align:center;">No.</p>
</td>
<td style="text-align:center;" width="186" valign="top">Zat Aktif</td>
<td width="308" valign="top">
<p style="text-align:center;">Efek Farmakologis</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">1</td>
<td width="186" valign="top">Limonene</td>
<td width="308" valign="top">Obat flu</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">2</td>
<td width="186" valign="top">1,8 cineole</td>
<td width="308" valign="top">Mencegah ejakulasi dini&nbsp;</p>
<p>Merangsang ereksi</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">3</td>
<td width="186" valign="top">10 dehydroginger dione</td>
<td width="308" valign="top">Merangsang keluarnya ASI</td>
</tr>
<tr>
<td width="49" valign="top">4</td>
<td width="186" valign="top">Alpha linolenic acid</td>
<td width="308" valign="top">Anti pendarahan di luar haid&nbsp;</p>
<p>Merangsang kekebalan tubuh</p>
<p>Merangsang produksi getah bening</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>LINGKUNGAN</strong><strong> </strong><strong>T</strong><strong>UMBUH</strong></p>
<p>Jahe tumbuh baik pada iklim tipe A, B dan C (Schmidt &amp; Ferguson), dengan ketinggian tempat 300 &#8211; 900 m dari permukaan laut.  Suhu yang diinginkan adalah 25 &#8211; 30º C.  Curah hujan per tahun yang baik  berkisar 2 500 – 4 000 mm, dengan jumlah bulan basah (&gt; 100 mm/bl) 7 &#8211; 9 bulan per tahun.  Intensitas  cahaya  matahari  adalah 70  -  100%  atau  agak  ternaungi  sampai terbuka.</p>
<p>Tanah yang baik adalah tanah yang gembur dan subur, bertekstur lempung sampai lempung liat berpasir dengan pH tanah 6,8 – 7,4. Lahan dengan pH rendah dapat diberikan kapur pertanian 1 &#8211; 3 ton/ha atau dolomit 0,5 &#8211; 2 ton/ha untuk meningkatkan pH tanah. Pada   lahan   dengan   kemiringan   &gt;   3%   dianjurkan   untuk dibuat   teras.   Teras   bangku   sangat   dianjurkan   bila kemiringan lereng sangat curam.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>BUDIDAYA</strong></p>
<p>Bahan tanam (banam), atau disebut juga bibit,  yang digunakan harus jelas asal usulnya, sehat dan tidak tercampur dengan varietas lain.   Banam yang sehat harus berasal dari pertanaman yang sehat, tidak terserang penyakit.   Banam berupa rimpang  yang  digunakan  harus cukup  tua, minimal   berumur   10   bulan.   Ciri-ciri   rimpang   tua   antara   lain kandungan  serat  tinggi  dan  kasar,  kulit  licin  dan  keras,  tidak  mudah mengelupas, warna kulit mengkilat dan menampakkan tanda bernas.</p>
<p>Rimpang   yang   terpilih   untuk   dijadikan   bibit sebaiknya mempunyai 2 &#8211; 3 bakal mata tunas yang baik, bobot sekitar  25 &#8211; 60 g  untuk jahe putih besar, 20 &#8211; 40 g untuk jahe putih kecil dan jahe merah. Kebutuhan bibit per ha untuk jahe merah dan jahe emprit 1 – 1,5 ton, sedangkan jahe putih besar yang dipanen tua membutuhkan bibit 2 &#8211; 3 ton/ha dan 5 ton/ha untuk jahe putih besar yang dipanen muda. Bagian rimpang yang terbaik dijadikan bibit adalah rimpang pada ruas kedua dan ketiga.</p>
<p>Sebelum  ditanam,  bibit  ditunaskan  terlebih  dahulu dengan  cara  menyemaikannya  yaitu,  menghamparkan  rimpang  di  atas jerami/alang-alang tipis, di tempat yang teduh atau di dalam gudang penyimpanan dan tidak ditumpuk. Untuk itu, biasa digunakan wadah atau  rak-rak  terbuat  dari  bambu  atau  kayu  sebagai  alas.  Selama penyemaian dilakukan penyiraman setiap hari sesuai kebutuhan, untuk menjaga kelembaban rimpang. Banam dengan tinggi tunas  antara  1  -  2  cm  siap  ditanam  di  lapangan.</p>
<p>Lahan, sebelum  tanam, harus diolah terlebih dahulu.  Pengolahan tanah   dilakukan  dengan   cara  mencangkul   tanah sedalam 30 cm atau bisa juga dengan mentraktornya.  Kemudian, lahan dibersihkan dari ranting-ranting dan sisa-sisa tanaman yang sukar lapuk. Setelah   tanah   diolah   dan digemburkan   dibuat   bedengan dengan lebar 1 – 1,2 m dengan panjang 10 – 25 m.  Pada bedengan atau guludan kemudian dibuat lubang tanam.</p>
<p>Bibit jahe ditanam sedalam 5 &#8211; 7 cm dengan tunas menghadap ke atas. Jarak tanam  yang  digunakan  untuk  penanaman  jahe  putih  besar  yang dipanen tua adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm, jahe putih kecil dan jahe merah 60 cm x 40 cm.</p>
<p>Pupuk kandang yang sudah matang diberikan sebanyak 20 ton/ha, dilakukan 2 minggu sebelum tanam. Pupuk  buatan  SP-36 200  -  300  kg/ha  dan  KCl  100  -  200  kg/ha, diberikan pada saat tanam.  Pupuk urea sebanyak 300 &#8211; 400 kg/ha, diberikan 3 kali pada umur 1, 2 dan 3 bulan setelah tanam, masing-masing 1/3  dosis  setiap  pemberian. Pada umur 4  bulan  setelah  tanam dapat pula diberikan pupuk kandang ke dua sebanyak 20 ton/ha.</p>
<p>Penyiangan gulma dilakukan secara intensif sejak gulma terlihat banyak tumbuh.  Penyiangan setelah umur 4 bulan perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran yang  dapat  menyebabkan  masuknya  benih  penyakit.  Untuk  mengurangi intensitas penyiangan bisa digunakan mulsa dari jerami atau sekam atau bahan lainnya.</p>
<p>Menyulam tanaman yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1 –  1,5  bulan  setelah  tanam.  Penyulaman dilakukan  dengan  memakai  bibit cadangan  yang sudah diseleksi dan disemaikan.</p>
<p>Pembumbunan   mulai   dilakukan   pada   saat   tanaman  telah   membentuk rumpun  dengan  4  -  5  anakan,  agar  rimpang  selalu  tertutup  tanah. Selain  itu,  dengan  dilakukan  pembumbunan,  drainase  akan  selalu terpelihara.</p>
<p>Pengendalian hama penyakit     dilakukan sesuai dengan keperluan.  Penyakit  utama  pada  jahe  adalah  busuk  rimpang  yang disebabkan oleh serangan bakteri layu (<em>R</em><em>alstonia  solanacearum</em>). Sampai  saat  ini  belum  ada  metode  pengendalian  yang  memadai, kecuali   dengan   menerapkan   tindakan-tindakan   untuk   mencegah masuknya        benih penyakit,             seperti penggunaan lahan sehat, penggunaan bibit sehat, perlakuan bibit sehat (antibiotik), menghindari perlukaan (penggunaan abu sekam), pergiliran tanaman, pembersihan sisa tanaman  dan  gulma,  pembuatan  saluran  irigasi supaya  tidak  ada  air  menggenang  dan  aliran  air  tidak  melalui  petak sehat (sanitasi), inspeksi kebun secara rutin. Tanaman yang terserang layu bakteri segera dicabut dan dibakar untuk menghindari meluasnya serangan  OPT.  Hama  yang  cukup  signifikan  adalah  lalat  rimpang <em>Mimergralla   coeruleifrons </em>(Diptera,   Micropezidae)   dan   <em>Eumerus figurans </em>(Diptera,  Syrpidae),  kutu  perisai  (<em>A</em><em>spidiella  hartii</em>)  yang menyerang   rimpang   mulai   dari   pertanaman   dan   menyebabkan penampilan rimpang kurang baik serta bercak daun yang disebabkan oleh cendawan (<em>P</em><em>hyllosticta </em>sp.).</p>
<p><strong>PANEN</strong></p>
<p>Panen untuk konsumsi dimulai pada umur 6 sampai 10 bulan. Tetapi, rimpang untuk bibit dipanen pada umur 10 &#8211; 12 bulan. Cara panen dilakukan dengan membongkar seluruh rimpangnya dengan menggunakan garpu dan cangkul,   kemudian   tanah   yang   menempel dibersihkan.  Dengan  menggunakan  varietas  unggul  jahe  putih  besar (Cimanggu-1) dihasilkan rata-rata 27 ton rimpang segar per ha. Calon varietas unggul  jahe  putih kecil (JPK  3;  JPK 6)  dengan  cara  budidaya yang direkomendasikan,   dihasilkan   rata-rata   16   ton/ha   rimpang   segar dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%.  Jahe  merah  bisa menghasilkan 22 ton/ha dengan kadar minyak atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emhatta.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emhatta.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emhatta.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emhatta.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emhatta.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emhatta.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emhatta.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emhatta.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emhatta.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emhatta.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emhatta.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emhatta.wordpress.com/138/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emhatta.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emhatta.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emhatta.wordpress.com&amp;blog=4139957&amp;post=138&amp;subd=emhatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emhatta.wordpress.com/2010/12/06/jahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9bcd6538340a9cb4d187ac4f8d20ba4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emhatta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cara Praktis Memperbanyak Anggrek</title>
		<link>http://emhatta.wordpress.com/2008/09/24/cara-praktis-memperbanyak-anggrek/</link>
		<comments>http://emhatta.wordpress.com/2008/09/24/cara-praktis-memperbanyak-anggrek/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Sep 2008 06:16:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Hatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bibit]]></category>
		<category><![CDATA[Hortikultura]]></category>
		<category><![CDATA[Tanaman Hias]]></category>
		<category><![CDATA[anggrek]]></category>
		<category><![CDATA[bibit]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emhatta.wordpress.com/2008/09/24/cara-praktis-memperbanyak-anggrek/</guid>
		<description><![CDATA[Cara Memperbanyak Anggrek Ada 2 cara, yaitu: 1. Dengan Biji 2. Dengan organ Vegetatif 1. Perbanyakan dengan Biji Biji diperoleh dari buah anggrek yang sudah cukup masak. Masaknya buah anggrek berbeda menurut jenisnya. Berikut, informasi masaknya beberapa jenis buah anggrek. Dendrobium : masak buahnya 4 bulan tetapi dapat dipetik dan biji ditabur pada umur buah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emhatta.wordpress.com&amp;blog=4139957&amp;post=41&amp;subd=emhatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cara Memperbanyak Anggrek<br />
Ada 2 cara, yaitu:<br />
1. Dengan Biji<br />
2. Dengan organ Vegetatif</p>
<p>1. Perbanyakan dengan Biji</p>
<p>Biji diperoleh dari buah anggrek yang sudah cukup masak. Masaknya buah anggrek berbeda menurut jenisnya. Berikut, informasi masaknya beberapa jenis buah anggrek.</p>
<p>Dendrobium : masak buahnya 4 bulan tetapi dapat dipetik dan biji ditabur pada umur buah 3 bulan<br />
Phaleonopsis : masak buahnya 4 bulan tetapi dapat dipetik dan biji ditabur pada umur buah 3 bulan<br />
Vanda : masak buahnya 8 bulan tetapi dapat dipetik dan biji ditabur pada umur buah 6 bulan<br />
Cattleya : masak buahnya 9 &#8211; 10 bulan juga dapat dipetik dan biji ditabur pada umur buah 8bulan</p>
<p>Kemudian, biji disemai dipersemaian. Persemaian dapat dilakukan dalam botol, toples atau gelas yang khusus atau bisa juga dalam lemari kaca. Tetapi biasanya persemaian dilakukan dalam botol bening seperti yang banyak kita jumpai di toko dan penjual anggrek, karena lebih praktis. Sebagai media persemaian, di gunakan agar-agar yang telah di¬beri unsur hara dan vitamin secukupnya.</p>
<p>Beberapa media semai dapat digunakan, diantaranya sebagai berikut:<br />
A. Resep Chang<br />
1. Minyak ikan 1,5 sendok teh<br />
2. Pepton 1 sendok teh<br />
3. Gula pasir 5,5 g<br />
4. Agar-agar 15 g<br />
5. Air bersih 1000 cc</p>
<p>Media ini cocok untuk persemaian Dendrobium, Arachnis, dan Vanda</p>
<p>B. Resep Alami<br />
1. Air tomat segar 10 g<br />
2. Air kelapa 1000 cc<br />
3. Agar-agar 15 g</p>
<p>Mengapa biji anggrek tidak dapat ditanam pada media biasa ?<br />
Ini karena biji anggrek tidak mempunyai lembaga atau cadangan makanan.   Oleh karena itu, biji anggrek harus disemai pada media yang mengandung unsur hara yang bisa segera digunakan oleh benih anggrek yang akan tumbuh.  Pada anggrek terdapat protocorm, yaitu suatu jaringan yang terdapat pada biji anggrek, dimana akar, tunas, dan batang tidak dapat dibedakan.   Protocorm ini dapat tumbuh menjadi kecambah asal tersedia cukup unsur hara untuk kebutuhannya.</p>
<p>2. Perbanyakan dengan organ Vegetatif<br />
Perbanyakan anggrek secara vegetatif dapat dilakukan dengan empat cara yaitu setek, pemecahan rumpun, pemotongan keiki, dan pemotongan anakan. D engan cara vegetatif ini, kita akan memperoleh bibit tanaman yang mempunyai sifat yang sama seperti induknya.  Berikut akan diterangkan cara-cara melakukan perbanyakan secara vegetatif:</p>
<p>A. SETEK PUCUK<br />
Perbanyakan dengan cara setek cocok dilakukan pada anggrek berbatang satu (monopodial). Contohnya Arachnis, Aranthera, Renanthera, dan Vanda. Perbanyakan anggrek monopodial dilakukan dengan memotong setek pucuk atau setek ujung batang. Bagian yang terpotong minimal mempunyai dua akar, tanpa mengurangi jumlah daun. Sisa batang bawah tetap dipelihara karena dapat mengeluarkan beberapa tunas baru. Bila tunas baru sudah membentuk daun dan mengeluarkan minimal 2 akar maka tunas anakan dapat dipotong dan digunakan sebagai bibit.</p>
<p>Cara penanaman setek pucuk sebagai berikut.<br />
a. Di pot<br />
Sebelum ditanami, dasar pot lebih dahulu diisi pecahan batu bata atau genting setinggi sepertiga bagian. Pecahan batu-bata atau genting berfungsi untuk menjaga kelembapan agar tetap tinggi. Juga sebagai pemberat agar pot tidak mudah rebah. Selanjutnya, pot tersebut diisi media tumbuh sabut kelapa, arang, pakis, atau sejenisnya. Setek ditanam tepat dibagian tengah. Penanaman dalam pot umumnya dilakukan pada anggrek monopodial yang bersifat epifit seperti Vanda berdaun lebar (Vanda daun).</p>
<p>b. Di bedengan<br />
Di sepanjang jalur penanaman diberi batu-bata atau genting agar media tumbuh tidak keluar dari bedengan. Karena sifat pertumbuhan anggrek monopodial cenderung tumbuh ke atas tanpa batas maka diperlukan penyangga yang terbuat dari kayu, bambu, besi, atau sejenisnya. Media tumbuh yang digunakan pada umumnya berupa serutan kayu, sabut kelapa, atau sejenisnya. Di bagian atas media tumbuh kadang ditambahkan pupuk kandang atau kompos yang sudah steril. Setelah itu dicampur dengan pupuk buatan NPK 0,1-0,2%. Penyiraman dapat dilakukan sehari setelah penanaman. Lakukan pada pagi hari pukul 06.00-07.00 dan sore hari pukul 17.00 &#8211; 18.00. Pemberian pupuk majemuk dapat diberikan seminggu setelah penanaman. Pupuk itu dilarutkan dan disemprotkan ke seluruh bagian tanaman dengan dosis 0,1-0,2% setiap dua kali seminggu. Pemberian tambahan pupuk buatan dalam bentuk granula dapat dilakukan setiap 1-2 bulan sekali atau sesuai anjuran yang diletakkan di atas media tumbuhnya.</p>
<p>B. PEMISAHAN RUMPUN<br />
Pemecahan atau pemisahan rumpun dilakukan pada anggrek berbatang banyak (simpodial). Contohnya Cattleya, Cymbidium, Dendrobium, dan Oncidium. Perbanyakan anggrek simpodial dilakukan melalui pemisahan atau pemecahan rumpun.<br />
Pemisahan rumpun dapat dilakukan bila pot telah penuh dan padat oleh tunas anakan. Tunas anakan itu kemudian dipisahkan dari tanaman induknya. Anakan yang dipisah sebaiknya memiliki 3 anakan dan bagian dasar dari anakan (rhizome) harus tetap saling berhubungan antara yang satu dengan lainnya. Semua akar yang tidak aktif atau akar tua dibuang sehingga anakan tampak seperti tidak berakar.<br />
Cara penanamannya, dasar pot diisi dengan pecahan batu-bata atau genting setinggi sepertiga bagian. Di atasnya diisi lagi dengan media tumbuh setinggi sepertiga bagian. Selanjutnya anakan tersebut ditanam dengan mengatur posisi. Anakan yang paling tua diletakkan di dekat atau menempel pada bibir pot bagian pinggir atas. Dengan cara ini pertumbuhan tunas anakan dapat mengisi seluruh permukaan bagian pot. Apabila anakan yang tua diletakkan di bagian tengah pot maka pertumbuhannya akan tidak seimbang. Sebelum anakan ditanam, pangkalnya terutama luka bekas potong dicelup sekilas dalam larutan fungisida atau bakterisida. Apabila kesulitan mengeluarkan anakan karena sangat keras melekat erat di pot dan media maka pot sebaiknya dipecahkan. Hati-hati untuk menghindari kerusakan atau putusnya anakan. Penyiraman dilakukan kurang lebih 3-4 hari setelah penanaman. Adapun pemupukan dilakukan kurang lebih seminggu setelah penanaman.</p>
<p>C. PEMOTONGAN KEIKI<br />
Keiki adalah anakan yang keluar dari batang atau pseudobulb. Contohnya Dendrobium. Keiki ini bila telah membentuk tanaman seutuhnya lengkap dengan akarnya, maka keiki terse¬but dapat dipisahkan dari induknya dengan cara memotongnya dengan pisau yang tajam.  Penanamannya sama seperti anggrek epifit umumnya.</p>
<p>D. PEMOTONGAN TUNAS ANAKAN<br />
Walaupun jarang terjadi, tetapi adakalanya ujung akar atau tangkai bunga Phalaenopsis muncul tunas anakan. Tunas anakan tersebut dapat dipotong dan ditanam. Nantinya, tunas akan berkembang menjadi tanaman dewasa.</p>
<p><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Artikel lebih lengkap dan disertai gambar dapat anda pesan<br />
</span><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Caranya Sebagai Berikut:</span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">1.<span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Pesan ke email : hatta_ksg@yahoo.com atau <a href="mailto:hatta2ksg@gmail.com">hatta2ksg@gmail.com</a> atau ke HP: 081360016837</span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">2.   Kirim donasi anda minimum Rp 50.000,- ke rekening  No : 1050095020990   Bank Mandiri<br />
3.   Konfirmasikan kiriman anda ke No. Hp 081360016837</span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Selain artikel di atas, anda diperkenankan memilih bonus 2 buah artikel lainnya dari blog ini atau blog: hatta2fp.wordpress</span></em></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;"> </span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Artikel akan segera dikirim ke alamat email anda<br />
Catatan: pengiriman hanya dengan email</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emhatta.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emhatta.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emhatta.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emhatta.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emhatta.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emhatta.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emhatta.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emhatta.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emhatta.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emhatta.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emhatta.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emhatta.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emhatta.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emhatta.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emhatta.wordpress.com&amp;blog=4139957&amp;post=41&amp;subd=emhatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emhatta.wordpress.com/2008/09/24/cara-praktis-memperbanyak-anggrek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9bcd6538340a9cb4d187ac4f8d20ba4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emhatta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SIRAMAN AIR DINGIN PADA MEDIA MENINGKATKAN PERTUMBUHAN</title>
		<link>http://emhatta.wordpress.com/2008/09/02/siraman-air-dingin-pada-media-meningkatkan-pertumbuhan/</link>
		<comments>http://emhatta.wordpress.com/2008/09/02/siraman-air-dingin-pada-media-meningkatkan-pertumbuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 09:37:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Hatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[air dingin]]></category>
		<category><![CDATA[daun]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[suhu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emhatta.wordpress.com/2008/09/02/siraman-air-dingin-pada-media-meningkatkan-pertumbuhan/</guid>
		<description><![CDATA[PENDAHULUAN Suhu tanah dan suhu udara tempat tanaman tumbuh akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, termasuk juga bibit cabai. Pengaruhnya beragam. Suhu udara yang terlalu rendah menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat. Sebaliknya, suhu yang tinggi yang disertai pengairan kurang akan menghambat suplai unsur hara dan menyebabkan transpirasi tinggi. Menurut Prajnanta (1998) suhu tinggi juga akan merangsang perkembangbiakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emhatta.wordpress.com&amp;blog=4139957&amp;post=13&amp;subd=emhatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENDAHULUAN<br />
Suhu tanah dan suhu udara tempat tanaman tumbuh akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, termasuk juga bibit cabai. Pengaruhnya beragam. Suhu udara yang terlalu rendah menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat. Sebaliknya, suhu yang tinggi yang disertai pengairan kurang akan menghambat suplai unsur hara dan menyebabkan transpirasi tinggi. Menurut Prajnanta (1998) suhu tinggi juga akan merangsang perkembangbiakan hama seperti ulat, thrips, dan aphids. Suhu tinggi yang disertai daya kelembaban yang tinggi akan meningkatkan intensitas serangan bakteri Pseudomonas solanacearum penyebab layu akar serta merangsang perkembangbiakan cendawan dan bakteri. Suhu yang optimal untuk pertumbuhan tanaman cabai adalah 24-28˚C.<br />
Perubahan suhu beberapa derajat saja dapat menyebabkan perubahan yang nyata dalam laju pertumbuhan tanaman. Setiap spesies dan varietas tanaman masing-masing mempunyai suhu kardinal yaitu suhu minimum, optimum dan maksimum. Laju pertumbuhan tanaman akan sangat rendah apabila tanaman dikondisikan di bawah suhu minimum dan di atas suhu maksimum, sedangkan pada kisaran suhu optimum akan diperoleh laju pertumbuhan tanaman yang lebih tinggi (Salisbury dan Ross, 1995).<br />
Suhu banyak mempengaruhi metabolisme tanaman seperti fotosintesis, respirasi, dan fotorespirasi. Peningkatan suhu sampai pada tingkat tertentu akan meningkatkan laju fotosintesis. Namun, peningkatan ini akan segera menurun pada suhu yang sangat tinggi (Gardner et al., 1985). Demikian pula halnya suhu terhadap respirasi.<br />
Laju respirasi meningkat dengan meningkatnya suhu. Namun, apabila dikondisikan di atas suhu maksimum laju respirasi akan mulai menurun. Hal ini disebabkan sebagian enzim-enzim yang berperan akan mulai mengalami denaturasi (Lakitan, 1991). Saitoh et al. (1998) melaporkan bahwa pada tanamam padi, semakin tinggi suhu atmosfir maka semakin tinggi laju respirasi daun dan cabang. Karena hasil bersih fotosintesis merupakan selisih dari aktifitas laju fotosintesis dan respirasi maka suhu secara tidak langsung juga akan menentukan hasil bersih fotosintesis. Gardner et al. (1985) menyatakan juga bahwa suhu yang tinggi akan meningkatkan laju fotorespirasi, yang berarti menurunkan hasil bersih fotosintesis.<br />
Tanaman cabai menghendaki suhu tertentu. Suhu untuk perkecambahan benih paling baik antara 25-30°C. Laju perkecambahan rendah pada suhu yang rendah dan meningkat secara gradual dengan meningkatnya suhu menyerupai kurva reaksi kimia. Suhu untuk pembibitan berada sedikit di bawah suhu perkecambahan. Tanaman di pembibitan membutuhkan suhu yang agak rendah akan tetapi membutuhkan pencahayaan yang terang (Hartmann et al., 1990).<br />
Dari beberapa penelitian tentang suhu ternyata belum terlihat secara jelas bagaimana perbedaan antara pengaruh suhu tanah dengan suhu atmosfir terhadap pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu air penyiraman yang diberikan pada media dan pada daun terhadap pertumbuhan bibit cabai.</p>
<p>HASIL PENELITIAN<br />
Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa pemberian air dingin (12°C) memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan bibit cabai, yaitu terhadap tinggi bibit, diameter batang, luas daun, berat basah bibit, berat basah akar, berat kering bibit, dan berat kering akar. Perlu diketahui bahwa pengaruhnya bisa positif tapi bisa juga negatif. Makanya harus hati-hati.<br />
Secara umum bisa kami katakan bahwa pemberian atau penyemproan air dingin, yaitu air dengan suhu sekitar 12°C pada daun akan sangat menghambat pertumbuhan bibit. Air dingin yang bersuhu 12 °C terlihat mengganggu morfologi daun. Selain berukuran sempit, daun juga terlihat mengkerut. Gangguan morfologi ini bermuara pada tertekannya pertumbuhan perakaran bibit. Menurut Lakitan (1991) daun merupakan bagian tanaman yang sangat mempengaruhi proses metabolisme, seperti fotosintesis, hidrolisis air, fiksasi, reduksi CO2 dan respirasi. Hampir semua proses-peoses tersebut terjadi di dalamnya.<br />
Sebaliknya, penyiraman air dingin pada media tanam akan memberikan pertumbuhan yang baik. Menurut Lakitan (1991), proses-proses fisik dan kimiawi dikendalikan oleh suhu, dan kemudian proses-proses ini mengendalikan reaksi biologi yang berlangsung dalam tanaman. Selain itu, suhu menentukan laju difusi dari gas dan zat cair dalam tanaman. Apabila suhu turun, viskositas air naik, begitu juga untuk gas-gas energi kinetik dari karbodioksida, oksigen dan zat lain berubah sesuai perubahan suhu. Dalam air dingin kelarutan karbodioksida dua dua kali lipat dari kelarutannya dalam air panas. Suhu media yang rendah kemungkinan juga menyebabkan aktivitas mikrobia di dalam media relatif lebih lambat sehingga status nutrisi dan bahan organik berada dalam keadaan lebih stabil. Kondisi yang lebih stabil ini tentu menguntungkan bagi pertumbuhan bibit.</p>
<p><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Artikel lebih lengkap dapat anda pesan</span></p>
<p><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Caranya Sebagai Berikut:</span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">1.<span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Pesan ke email : hatta_ksg@yahoo.com atau <a href="mailto:hatta2ksg@gmail.com">hatta2ksg@gmail.com</a> atau ke HP: 081360016837</span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">2.   Kirim donasi anda minimum Rp 50.000,- ke rekening  No : 1050095020990   Bank Mandiri<br />
3.   Konfirmasikan kiriman anda ke No. Hp 081360016837</span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Selain artikel di atas, anda diperkenankan memilih bonus 2 buah artikel lainnya dari blog ini atau blog: <a href="http://hatta2fp.wordpress.com/">hatta2fp.wordpress</a></span></em></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;"> </span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Artikel akan segera dikirim ke alamat email anda<br />
Catatan: pengiriman hanya dengan email</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/emhatta.wordpress.com/13/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/emhatta.wordpress.com/13/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emhatta.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emhatta.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emhatta.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emhatta.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emhatta.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emhatta.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emhatta.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emhatta.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emhatta.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emhatta.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emhatta.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emhatta.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emhatta.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emhatta.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emhatta.wordpress.com&amp;blog=4139957&amp;post=13&amp;subd=emhatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emhatta.wordpress.com/2008/09/02/siraman-air-dingin-pada-media-meningkatkan-pertumbuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9bcd6538340a9cb4d187ac4f8d20ba4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emhatta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMANFAATKAN KORAN BEKAS SEBAGAI MULSA</title>
		<link>http://emhatta.wordpress.com/2008/08/08/memanfaatkan-koran-bekas-sebagai-mulsa/</link>
		<comments>http://emhatta.wordpress.com/2008/08/08/memanfaatkan-koran-bekas-sebagai-mulsa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Aug 2008 04:26:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Hatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[barang bekas]]></category>
		<category><![CDATA[Budidaya]]></category>
		<category><![CDATA[cabe]]></category>
		<category><![CDATA[Koran bekas]]></category>
		<category><![CDATA[mulsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emhatta.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[PENGANTAR Pengamatan kami di lapangan menunjukkan bahwa ada banyak penyebab mengapa produksi tanaman, khususnya tanaman cabe belum mencapai sebagaimana diharapkan.  Salah satu penyebab adalah wawasan petani terhadap teknik budidaya cabe masih sangat dangkal. Umumnya petani mengerjakan usahanya dengan cara meniru begitu saja dari orang tuanya atau dari petani lain tanpa mengetahui mengapa sesuatu itu dilakukan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emhatta.wordpress.com&amp;blog=4139957&amp;post=10&amp;subd=emhatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENGANTAR</p>
<p>Pengamatan kami di lapangan menunjukkan bahwa ada banyak penyebab mengapa produksi tanaman, khususnya tanaman cabe belum mencapai sebagaimana diharapkan.  Salah satu penyebab adalah wawasan petani terhadap teknik budidaya cabe masih sangat dangkal. Umumnya petani mengerjakan usahanya dengan cara meniru begitu saja dari orang tuanya atau dari petani lain tanpa mengetahui mengapa sesuatu itu dilakukan.<br />
Contoh nyata di lapangan, bila seorang petani memakai mulsa plastik perak hitam maka petani lain akan meniru memakai mulsa yang demikian. Bila karena satu dan lain sebab mulsa tersebut tidak tersedia misalnya tidak tersedia dana maka petani itu tidak akan mencari penggantinya dan membiarkan tanamannya tanpa mulsa. Kemungkinan lain yang terjadi, petani itu tidak melakukan usaha taninya sampai mulsa tersebut diperoleh atau tersedia modal usaha dalam bentuk dana untuk membeli mulsa tersebut.<br />
Kondisi ini tentu tidak menguntungkan. Produktivitas lahan pertanian di daerah ini menjadi sangat rendah. Banyak lahan-lahan terlihat kosong tanpa ditanami dengan tanaman kecuali rumput. Bilapun ada pertanaman, teknik budidayanya masih sangat konvensional tanpa sentuhan teknologi yang berarti.<br />
Berdasarkan pengamatan dan analisis ini, kami telah melakukan suatu kegiatan untuk membuka wawasan petani bagi peningkatan produktivitas tanaman khususnya tanaman cabe.  Kegiatan ini adalah memberikan contoh penggunaan mulsa alternatif berupa pemanfaatan koran bekas untuk tujuan meningkatkan hasil tanaman cabe.  Koran bekas selain harganya murah bahkan terkadang dapat diperoleh secara cuma-cuma, tetapi juga sangat bermanfaat dalam menjaga kondisi tanah bila diaplikasikan sebagai mulsa.</p>
<p>SYARAT TUMBUH CABE</p>
<p>Tanaman cabe secara umum dapat ditanam di sembarangan tempat dan waktu. Tanama ini dapat di tanam di dataran tinggi ataupun di dataran rendah, di persawahan ataupun di tegalan, di musim kemarau ataupun musim hujan. Kendatipun demikian, tanaman cabe akan tumbuh dan berproduksi dengan baik bila syarat-syarat tertentu dari tempat tumbuhnya terpenuhi (Prajnanta, 2003).<br />
Cabe besar lebih sesuai bila ditanam di daerah kering dan berhawa panas dengan kisaran suhu optimum 24 – 28 oC. Tanaman ini menghendaki tempat terbuka sehingga sinar matahari dapat langsung diterima. Lama penyinaran yang baik antara 10 – 12 jam per hari. Curah hujan yang baik adalah 1500 –2500 mm/tahun (Setiadai, 1988; Prajnanta, 2003).<br />
Hampir semua jenis tanah dapat ditanami cabe mulai dari andosol, latosol, regosol, ultisol hingga grumusol. Namun demikian, tanah yang baik adalah tanah yang berstruktur remah, gembur tidak terlalu liat dan tidak terlalu porous serta kaya akan bahan organik. Derajat keasaman tanah yang baik berkisar antara 5,5 – 6,8 (Harjadi dan Bintoro, 1982; Prajnanta, 2003).</p>
<p>MULSA DAN PERANANNYA</p>
<p>Mulsa dapat didefinisikan sebagai bahan atau material yang sengaja dihamparkan di atas permukaan tanah. Berdasarkan sumber bahan dan cara pembuatannya, maka mulsa dapat dikelompokkan menjadi mulsaa organik, anorganik, dan kimia sintetik (Umboh, 1997).<br />
Mulsa organik berasal terutama dari sisa panen, tanaman pupuk hijau atau limbah hasil kegiatan pertanian lainnya seperti batang jagung, jeramai padi, batang kacang tanah dan kedelai dan lain-lain yang dapat melestarikan produktivitas lahan untuk jangka waktu yan lama (Purwowidodo, 1983). Kertas koran termasuk ke dalam katagori ini.<br />
Mulsa anorganik meliputi semua bahan batuan dalam bentuk dan ukuran tertentu seperti batu kerikil, batu koral, batu bata, pasir kasar, serta batuan lainnya. Bahan mulsa ini lebih banyak digunakan untuk tanaman hias (Umboh, 1997)<br />
Mulsa kimia sintetik menurut Purwowidodo (1983) meliputi semua bahan yang sengaja dibuat khusus untuk mendapatkan pengaruh tertentu jika diperlakukan pada tanah. Jenis bahan ini meliputi bahan-bahan plastik berbentuk lembaran dengan daya tembus sinar yang seragamserta bahan-bahan kimia yang berbentuk emulsi seperti bitumin, aspal, krilium, dan lateks yang berfungsi sebagai soil conditioner.<br />
Mulsa mempunyai terbukti dapat mempertahankan tingkat produktivitas tanah. Mulsa mempunyai beberapa kebaikan antara lain dapat melindungi agregat tanah dari daya rusak butiran hujan, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan, memelihara suhu dan kelembaban tanah, dan mengendalikan pertumbuhan gulma (Purwowidodo, 1983).<br />
Tisdale dan Nelson (1975) menyatakan bahwa pemberian mulsa dapat mempengaruhi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Mulsa dapat memperbaiki tata udara tanah dan meningkatkan pori-pori makro tanah sehingga kegiatan jasad renik dapat lebih baik dan ketersediaan air dapat lebih terjamin bagi tanaman. Mulsa dapat pula mempertahankan kelembaban dan suhu tanah sehingga akar tanaman dapat menyerap unsur hara lebih baik.<br />
Pemberian mulsa khususnya mulsa organik seperti kertas koran juga termasuk salah satu teknik pengawetan tanah. Pemberian mulsa ini selain dapat menambah bahan organik tanah juga dapat mengurangi erosi dan evaporasi, memperbesar porositas tanah sehingga daya infiltrasi air menjadi lebih besar (Sarief, 1985).<br />
Dari berbagai kebaikan yang diberikan kepada tanah, mulsa telah terbukti juga memberikan kebaikan pada pertumbuhan tanaman. Pertumbuhan tanaman yang lebih baik akan memberikan hasil yang lebih memuaskan.</p>
<p>METODE KEGIATAN</p>
<p>Metode kegiatan yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah pembuatan demplot, penyuluhan, dan bimbingan penerapan langsung budidaya tanaman cabe di lapangan. Demplot dibuat seluas 400 m2 atau sebanyak 500 batang cabe. Penyuluhan dan bimbingan pelaksanaan teknik budidaya cabe dan tata cara pemasangan mulsa koran bekas langsung dilaksanakan di demplot tersebut.<br />
Garis besar kegiatan teknik budidaya tanaman cabe dengan mulsa kertas kokran adalah sebagai berikut:<br />
1. Pembibitan dilaksanakan di polibag dengan media tanah dan pupuk kandang 2 : 1 atas dasar volume.<br />
2. Pengolahan tanah dengan menggunkan traktor sebanyak dua kali bajak sedalam 15 cm.<br />
3. Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 110 cm, tinggi 30 cm, dan panjang 15 m. Lebar parit 50 cm.<br />
4. Kapur diberikan bersamaan dengan pengrapian bedengan, dengan dosis 200 g/m2<br />
5. Pupuk kandang diberikan seminggu sebelum tanam, dosis 1 kg/lubang tanam<br />
6. Bibit dipindahtanamkan pada umur 25 hari setelah semai.<br />
7. Penaman dilakukan dengan jarak 50 cm x 50 cm<br />
8. Pemupukan pertama dilakukan seminggu setelah tanam dan pupuk kedua diberikan umur 30 hari setelah tanam. Jenis pupuk yang diberikan adalah ZA, Urea, TSP, dan KCl dengan dosis masing-masing 36 g, 14 g, 28 g, dan 22 g per tanaman. Pupuk ZA dan Urea diberikan setengah dosis pada pemupukan pertama dan setengahnya lagi pada pemupukan kedua. Pupuk TSP dan KCl diberikan sekaligus pada pemupukan pertama.<br />
9. Pemasangan mulsa koran bekas dilakukan setelah pemupukan, yaitu tiga lapis koran untuk setiap tanaman.<br />
10. Perempelan tunas dilakukan mulai umur 2 minggu setelah tanam.<br />
11. Pemasangan ajir dilakukan pada umur 2 minggu setelah tanam. Ajir terbuat dari bambu dengan pemasangan satu ajir untuk setiap tanaman.<br />
12. Pengairan dengan cara penggenangan ¾ bedengan diberikan 2 kali seminggu.<br />
13. Pupuk susulan (ketiga dan keempat) diberikan dua kali, yaitu pada umur 60 dan 90 hari setelah tanam. Pupuk yang dipakai adalah pupuk lengkap 15-15-15, dengan dosis 7,5 g per tanam per sekali pemberian.<br />
14. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan sejak tanaman dipindahtanamankan ke bedengan pertanaman, dengan menggunakan insektisida Decis 2,5 EC, Perfekthion 400 EC, dan fungisida Dithane M-45.<br />
15. Pemanenan dilakukan pada saat buah telah mememenuhi kriteria panen dengan ciri-ciri bentuknya padat, warnanya merah menyala dengan sedikit garis hitam (90% masak).</p>
<p>HASIL</p>
<p>Pengetahuan tentang penggunaan dan manfaat mulsa koran bagi pertumbuhan dan hasil cabe merupakan suatu yang baru bagi petani di sini. Pada umumnya, petani hanya mengenal mulsa plastik yang telah jamak dipakai. Pemakaian mulsa koran menjadi tanda tanya bagi petani karena belum pernah mereka lihat bahkan belum pernah mereka dengar. Sebagian petani serta merta mengatakan tidak mungkin memakai mulsa kertas koran karena pasti akan rusak/koyak bila terkena hujan. Sebagian lainnya berpendapat kertas koran tidak akan bisa menahan pertumbuhan gulma (rumput) karena kertas koran dianggap rapuh. Pendapat seperti ini langsung sirna ketika para petani di sekitar tempat pengabdian melihat langsung betapa kokohnya kertas koran ini berfungsi.</p>
<p>Pertumbuhan gulma tertekan oleh mulsa koran ini,  sebaliknya pertumbuhan dan produksi cabe menjadi maksimum. Tentunya ada banyak manfaat lain dari mulsa ini, antara lain kelembaban tanah tetap terjaga, suhu tanah tidak terlalu panas, dan jasad biologi tanah bertumbuh baik. Semuanya ini akan bermuara pada hasil cabe yang tinggi.  Menurut Purwowidodo (1983), mulsa terbukti dapat mempertahankan tingkat produktivitas tanah. Beberapa kebaikan mulsa antara lain dapat melindungi agregat tanah dari daya rusak butiran hujan, mengurangi jumlah dan kecepatan aliran permukaan, memelihara suhu dan kelembaban tanah, dan mengendalikan pertumbuhan gulma. Tisdale dan Nelson (1975) menyatakan bahwa pemberian mulsa dapat mempengaruhi sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Mulsa dapat memperbaiki tata udara tanah dan meningkatkan pori-pori makro tanah sehingga kegiatan jasad renik dapat lebih baik dan ketersediaan air dapat lebih terjamin bagi tanaman. Mulsa dapat pula mempertahankan kelembaban dan suhu tanah sehingga akar tanaman dapat menyerap unsur hara lebih baik. Lebih lanjut, menurut Sarief (1985) pemberian mulsa khususnya mulsa organik seperti kertas koran juga termasuk salah satu teknik pengawetan tanah. Pemberian mulsa ini selain dapat menambah bahan organik tanah juga dapat mengurangi erosi dan evaporasi, memperbesar porositas tanah sehingga daya infiltrasi air menjadi lebih besar.</p>
<p>Dengan mulsa koran, terlihat pertumbuhan cabe sangat kuat dan produksinya sangat tinggi. Produksi cabe mencapai 0,5 – 1,0 kg per batang.   Selain itu, terlihat juga kualitas hasil cabe sangat baik. Kedua hal ini, produksi dan kualitas yang tinggi, mengantarkan usaha cabe ke tingkat yang menguntungkan.   Dari tiga kali panen yang telah dijual, petani memperoleh harga yang baik yaitu rata-rata Rp 20.000,- per kg.</p>
<p>Hasil yang memuaskan ini dapat menjadi daya tarik yang kuat untuk meneruskan memanfaatkan bahan bekas, termasuk koran bekas, sebagai mulsa bagi pertanamannya. Pemanfaatan bahan bekas ini tidak hanya sebatas koran bekas tetapi dapat diperluas ke bahan-bahan lain seperti kertas semen bekas dan sebagainya.  Pemanfaatan bahan bekas dapat menghemat pengeluran petani. Bahan bekas kadang-kadang dapat diperoleh secara cuma-cuma di sekeliling tempat tinggal tanpa harus membeli. Bila terpaksa harus membeli, biasanya barang bekas harganya sangat murah. Sebagai contoh, koran bekas hanya dijual Rp 1500,- per kg. Bila petani rajin mengumpulkan kertas koran bekas, malahan terkadang bisa diperoleh secara gratis.  Demonstrasi penggunaan koran bekas yang sangat menjanjikan ini seharusnya dapat menarik minat petani.  Dari beberapa kali pertemuan dengan para petani di sini bahkan dengan penyuluh di wilayah ini, terlihat ada keinginan yang kuat dari mereka untuk memanfaatkan mulsa kertas koran bekas ini sebagai mulsa.  Terlihat ada kesungguhan dari cara mereka bertanya baik tentang hal-hal yang bersifat teknis maupun hal-hal yang bersifat teroritis.  Lebih jauh, mereka juga ada menyebut dan mendiskusikan tentang baiknya memanfaatkan bahan bekas untuk kemaslahatan lingkungan hidup.</p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Artikel lebih lengkap dapat anda pesan</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Caranya Sebagai Berikut:</span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;"> </span></p>
<p style="text-indent:-.25in;line-height:11.9pt;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">1.<span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Pesan ke email : hatta_ksg@yahoo.com atau <a href="mailto:hatta2ksg@gmail.com">hatta2ksg@gmail.com</a> atau ke HP: 081360016837</span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">2.   Kirim donasi anda minimum Rp 50.000,- ke rekening  No : 1050095020990   Bank Mandiri<br />
3.   Konfirmasikan kiriman anda ke No. Hp 081360016837</span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Selain artikel di atas, anda diperkenankan memilih bonus 2 buah artikel lainnya dari blog ini atau blog: hatta2fp.wordpress</span></em></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;"> </span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Artikel akan segera dikirim ke alamat email anda<br />
Catatan: pengiriman hanya dengan email</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/emhatta.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/emhatta.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emhatta.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emhatta.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emhatta.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emhatta.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emhatta.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emhatta.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emhatta.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emhatta.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emhatta.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emhatta.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emhatta.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emhatta.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emhatta.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emhatta.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emhatta.wordpress.com&amp;blog=4139957&amp;post=10&amp;subd=emhatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emhatta.wordpress.com/2008/08/08/memanfaatkan-koran-bekas-sebagai-mulsa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9bcd6538340a9cb4d187ac4f8d20ba4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emhatta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RENCANA PENANAMAN PADI SRI</title>
		<link>http://emhatta.wordpress.com/2008/08/06/rencana-penanaman-padi-sri/</link>
		<comments>http://emhatta.wordpress.com/2008/08/06/rencana-penanaman-padi-sri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 08:27:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Hatta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya]]></category>
		<category><![CDATA[Pangan]]></category>
		<category><![CDATA[padi]]></category>
		<category><![CDATA[sawah]]></category>
		<category><![CDATA[sri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://emhatta.wordpress.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[Saya membaca di banyak rubrik bahwa padi SRI banyak sekali kelebihannya dibandingkan dengan penanaman badi biasa. Saya awalnya tidak begitu yakin, tetapi akhirnya timbul juga rasa penasaran terhadap padi SRI ini. Tahun ini saya akan melakukan percobaan penanaman padi SRI. Ini saya lakukan dengan beberapa tujuan, yaitu 1) ingin memastikan kebenaran informasi mengenai padi SRI [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emhatta.wordpress.com&amp;blog=4139957&amp;post=4&amp;subd=emhatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya membaca di banyak rubrik bahwa padi SRI banyak sekali kelebihannya dibandingkan dengan penanaman badi biasa. Saya awalnya tidak begitu yakin, tetapi akhirnya timbul juga rasa penasaran terhadap padi SRI ini. Tahun ini saya akan melakukan percobaan penanaman padi SRI. Ini saya lakukan dengan beberapa tujuan, yaitu 1) ingin memastikan kebenaran informasi mengenai padi SRI ini 2) dengan banyaknya keuntungan dari padi SRI ini, saya ingin melakukan demo agar petani bisa melihat tata cara penanaman padi SRI di lapangan 3) ingin membantu pemerintah mengamankan ketersediaan pangan terutama beras.</p>
<p>Berikut adalah rencana penanaman padi SRI</p>
<p>Pendahuluan<br />
Desa Cot Cut terletak di wilayah Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, lebih kurang 7 km dari Kota Banda Aceh. Sebagian besar penduduk desa ini bermatapencaharian sebagai petani padi.<br />
Bagi masyarakat Desa Cot Cut bertanaman padi sudah merupakan pekerjaan wajib dan menjadi tumpuan hidup sebagian warga. Selain itu, bagi warga desa ini, padi merupakan komoditi yang dapat memberikan rasa aman. Bila padi masih tersedia di rumah, keluarga merasa sangat aman dan nyaman dalam menjalankan kehidupannya.<br />
Pertanian padi di desa ini sebagian besar berada pada lahan sawah yang beririgasi semi teknis dan sebagian lainnya tanah hujan. Luas lahan sawah di desa ini mencapai setengah dari luas desa ini, yaitu sekitar 500 ha. Namun demikian, umumnya, para petani memiliki luas lahan sawah yang terbatas, yaitu antara 2000 m2 sampai 10000 m2. Bahkan, ada juga sebagian petani yang sama sekali tidak memiliki lahan sendiri. Biasanya, petani padi ini menggunakan sawah sewaan, dengan sistem sewa 2 : 1 (dua bagian panen untuk petani dan satu bagian panen untuk pemilik sawah).<br />
Produktivitas sawah di desa ini juga masih tergolong rendah. Rata-rata hasil padi per hektar per musim tanam sekitar 4 – 5 ton. Produktivitas seperti ini telah berlangsung sangat lama tanpa ada tendensi untuk meningkat. Peningkatan produktivitas padi di daerah ini akan sangat sulit terjadi apabila tidak ada inovasi baru.<br />
Hasil pengamatan kami di lapangan mengindikasikan bahwa ada beberapa penyebab mengapa produktivitas padi di daerah ini sulit meningkat. Salah satu penyebab adalah petani tidak mempunyai keberanian dan pengetahuan untuk mengusahakan dengan cara baru. Ada kesan bahwa cara menanam padi tidak bisa diubah sebagaimana yang sekarang ini dilakukan. Pendapat bahwa padi harus ditanam dalam air sangat melekat kuat dipikiran para petani. Padahal kita tahu bahwa padi sebenarnya bukanlah tanaman air.<br />
Masih banyak hal lain yang juga ikut menyebabkan sulitnya meningkatkan produktivitas padi. Antara lain adalah pupuk yang dipakai pada tanaman padi. Hampir semua petani di desa ini menganggap bahwa padi hanya memerlukan pupuk urea. Padahal kita tahu bahwa tanaman padi sebagaimana halnya dengan tanaman lain juga memerlukan unsur hara lainnya dan karenanya memerlukan pemupukan yang seimbang. Hal yang sama juga terjadi terhadap pupuk organik. Pupuk organik dianggap tidak diperlukan. Padahal para ahli menyatakan bahwa pupuk organik sangat bermanfaat baik untuk kesuburan tanah maupun untuk pertumbuhan dan hasil tanaman.<br />
Kondisi ini tentu tidak menguntungkan. Produktivitas sawah di daerah ini menjadi statis dan rendah. Petani tidak dapat meningkatkan pendapatannya sehingga tidak ada perbaikan kesejahteraan. Petani miskin menjadi tetap miskin.<br />
Berdasarkan pengamatan dan analisis ini, kami bermaksud melakukan suatu pengabdian kepada masyarakat di desa ini untuk membuka wawasan petani bagi peningkatan produktivitas tanaman khususnya tanaman padi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan contoh cara bertaman padi alternatif, yaitu bertanam padi dengan metode SRI (System of Rice Intensification).<br />
Metode SRI ini sangat ramah lingkungan, sangat hemat dalam pemakaian air dan ekonomis dalam penggunaan benih. Menurut beberapa hasil penelitian, hasil yang diperoleh dengan sistem SRI ini sangat tinggi, lebih tinggi daripada dengan metode konvensional biasa. Hasil penelitian oleh Nissanka dan Bandara (2004) menunjukkan bahwa metode SRI memberikan pertumbuhan yang lebih kuat, menghasilkan bulir yang lebih banyak, dan produksi bahan kering yang lebih tinggi daripada meode konvensional biasa. Zheng et al. (2004) menyatakan bahwa sistem SRI dapat menghasilkan padi sampai 12 ton ha-1. Lebih lanjut Ramanujan (2006) menyatakan bahwa sementara metode konvensional hanya memberikan rata-rata hasil antara 2 – 4 ton ha-1, metode SRI dapat menghasilkan rata-rata hasil antara 7 – 8 ton ha-1, bahkan sampai 15 ton ha-1.</p>
<p>Perumusan Masalah<br />
Berdasarkan pengamatan langsung di lapangan, ada beberapa hal yang perlu diperkenalkan pada petani di desa ini. Hal-hal tersebut antara lain teknik penyemaian, pemindahan dan penanaman, pemupukan (organik dan anorganik), pengairan, dan penyiangan. Berikut rumusan masalah petani di desa ini.<br />
1. Petani tidak mengenal dan menguasai teknik budi daya padi alternatif seperti metode SRI yang berbeda dengan metode konvensional. Perbedaan metode SRI terletak pada penyemaian, pemindahan dan penanaman, pemupukan (organik dan anorganik), pengairan, dan penyiangan.<br />
2. Petani belum memiliki wawasan dan pengetahuan yang memadai berkenaan dengan hubungan sebab akibat dari setiap tahapan kegiatan budi daya yang dikerjakan.<br />
3. Petani belum memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekelilingnya yang murah dan ramah lingkungan sebagai alternatif untuk meningkatkan produktivitas lahan dan hasil padi, seperti penggunaan pupuk kandang atau kompos yang banyak terdapat di sekelilingnya.</p>
<p>Tinjauan Pustaka<br />
1. Syarat Tumbuh Padi<br />
Padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 m dpl dengan suhu 19 – 27 0C, memerlukan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Angin berpengaruh pada penyerbukan dan pembuahan (Prabowo, 2007). Curah hujan yang baik rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan, curah hujan yang dikehendaki per tahun sekitar 1500 &#8211; 2000 mm (Warintek Bantul, 2008)<br />
Tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman padi adalah tanah sawah yang berlumpur. Ketebalan lapisan atasnya yang baik adalah antara 18 -22 cm dengan pH antara 4 -7 (Prabowo, 2007; Warintek Bantul, 2008).</p>
<p>2. Metode SRI<br />
SRI pertama sekali dikembangkan di Madagaskar pada tahun 1980an oleh Jesuit dan telah mencetak keberhasilan di Afrika, Amerika Latin, and Asia, termasuk India and China (Haviland, 2005). Metode ini tidak dikenal di luar Madagaskar sampai tahun 1997. Metode SRI memerlukan sedikit air dan sedikit input namun memberikan hasil yang lebih tinggi (The SRI Group, 2006; Ikisan, 2000).<br />
Metode SRI hanya memerlukan setengah jumlah air daripada metode konvensional. Pada metode SRI, tanaman tidak digenangi air tetapi cukup dilembabkan selama pertumbuhan vegetatif. Pada fase akhir vegetatif, lahan sawah cukup digenangi air sedalam 2,5 cm.<br />
Pada metode SRI, diperlukan jumlah benih yang sedikit (5 – 10 kg/hektar) dan juga sedikit tanaman per unit luas lahan (jarak tanam 25 x 25 cm), sementara metode biasa memerlukan 25 &#8211; 40 kg per hektar (The SRI Group, 2006; AAK, 1990).<br />
Metode SRI akan menghasilkan tanaman dengan akar yang banyak, anakan yang kuat dan banyak, tidak rebah, malai yang besar, bulir berisi dan bulir yang lebih berat, dan tanaman tahan terhadap hama dan penyakit. Perkembangan anakan padi pada metode ini sangat menonjol. Jumlah 30 – 50 anakan mudah dicapai, bahkan jumlah 100 anakan atau lebih dapat dicapai bila metode SRI diterapkan dengan baik (Ikisan, 2000).</p>
<p>Tujuan Kegiatan<br />
Tujuan pelaksanaan pengabdian ini adalah agar petani memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang memadai mengenai budi daya tanaman padi metode SRI untuk meningkatkan produksi padi yang sekaligus dapat meningkatkan pendapatan petani. Ini dapat dicapai dengan membuat demonstrasi dan memberikan penyuluhan dan bimbingan kepada petani tentang metode budidaya tanaman padi metode SRI secara langsung di lapangan.</p>
<p>Manfaat Kegiatan<br />
Dari kegiatan ini diharapkan petani akan memperoleh manfaat antara lain:<br />
1. Petani mengenal dan dapat melakukan bercocok tanam padi alternatif dengan benar<br />
2. Petani mengerti dan paham tentang semua tahap kegiatan penanaman padi metode SRI yang dikerjakan.<br />
3. Petani bertambah pendapatannya yang merupakan hasil dari pengurangan input dan penambahan hasil.</p>
<p>Khalayak Sasaran<br />
Sasaran dari pengabdian ini adalah petani padi di Desa Cot Cut yang berlokasi di sekitar bantaran Krueng Aceh. Jumlah petani yang akan dilibatkan langsung sebanyak lima kepala keluarga. Dengan kegiatan ini diharapkan petani akan bertambah wawasan dan pengetahuannya, meningkat produksi padinya, dan bertambah penghasilannya sehingga dapat menjadi contoh teladan bagi petani lainnya di sekitar daerah tersebut.</p>
<p>Metode Penerapan Ipteks<br />
Metode kegiatan yang akan digunakan dalam pelaksanaan pengabdian ini adalah pembuatan demplot, penyuluhan, dan bimbingan penerapan langsung budi daya tanaman padi metode SRI di lapangan. Demplot direncanakan seluas 2000 m2. Penyuluhan dan bimbingan pelaksanaan metode SRI secara rinci akan langsung diperagakan di demplot tersebut.<br />
Garis besar kegiatan teknik budi daya tanaman padi metode SRI adalah sebagai berikut:<br />
1. Pengolahan tanah dilakukan dengan menggunakan traktor, dua kali bajak sedalam 18 cm. Pengolahan tanah dilakukan secara basah.<br />
2. Lahan sawah kemudian digaru dan diratakan.<br />
3. Lahan digenangi selama seminggu untuk menekan pertumbuhan gulma kemudian dikeringkan.<br />
4. Saluran drainase dibuat setiap jarak 5 m dengan lebar 50 cm dan dalam 30 cm.<br />
5. Pupuk kandang diberikan dua minggu sebelum tanam dengan dosis 10 ton ha-1. Pemberiannya dilakukan secara sebar dan kemudian digaru.<br />
6. Dua minggu sebelum tanam, penyemaian benih dipersiapkan. Benih padi sebanyak 2 kg dimasukkan dalam air. Biji padi yang terapung dibuang, sedangkan biji yang tenggelam dipakai.<br />
7. Biji yang terpilih direndam dalam air selama 24 jam. Setelah itu, benih padi tersebut ditiriskan dan dimasukkan dalam karung goni selama dua hari untuk proses perkecambahan.<br />
8. Biji yang telah berkecambah kemudian disemai ditempat persemaian. Tempat persemaian dipersiapkan 7 hari sebelumnya, berupa lahan sawah kering dan diberikan pupuk kandang dengan dosis 2 kg/m2. Luas tempat persemaian sekitar 40 m2 dengan rate 50 g/ m2.<br />
9. Persemaian disiram 2 kali sehari dan setelah 10-12 hari bibit dipindahtanamkan.<br />
10. Penaman dilakukan dengan jarak 25 cm x 25 cm.<br />
11. Pupuk anorganik yang diberikan berupa urea 200 kg/ha, SP36 100 kg/ha, dan KCl 100 kg/ha (AAK, 1990; Departemen Transmigrasi, 1986).<br />
12. Pemupukan pertama dilakukan dua minggu setelah tanam, pupuk kedua diberikan umur empat minggu setelah tanam, dan pupuk ketiga diberikan enam minggu setelah tanam. Pupuk Urea diberikan tiga kali, yaitu setengah dosis pada pemupukan pertama dan masing-masing seperempat dosis pada pemupukan kedua, dan ketiga. Pupuk TSP dan KCl diberikan sekaligus pada pemupukan pertama.<br />
13. Pengairan dilakukan dengan cara memasukkan air ke sawah sampai keadaan macak-macak. Pengairan dilakukan seminggu sekali.<br />
14. Penyiangan gulma dilakukan seminggu sekali.<br />
15. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan bila terlihat gejala serangan hama dan penyakit. Insektisida yang akan dipakai adalah Decis 2,5 EC dan fungisida Dithane M-45.<br />
16. Pemanenan dilakukan pada saat buah padi telah bewarna kuning, sekitar 30 hari setelah keluar bunga.</p>
<p>Rancangan Evaluasi<br />
Tingkat keberhasilan dari kegiatan ini akan dievaluasi dengan menggunakan parameter sebagai berikut.<br />
1. Keikutsertaan dan respons petani selama kegiatan berlangsung.<br />
2. Penambahan pengetahuan dalam teknik budi daya padi metode SRI.<br />
3. Produksi padi yang diperoleh<br />
4. Keinginan petani untuk menerapkan metode SRI dan memanfaatkan sumber bahan yang tersedia di lingkungannya termasuk pupuk kandang.<br />
5. Keinginan petani lain di sekitar untuk mencoba menggunakan metode SRI sebagaimana yang dipakai dalam kegiatan ini.</p>
<p>Lokasi pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah di Desa Cot Cut. Desa ini terletak di wilayah Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, lebih kurang 7 km dari Kota Banda Aceh. Dari Kampus Fakultas Pertanian, Unsyiah, desa ini hanya berjarak sekitar 3 km di sebelah selatan kampus.</p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Artikel hasil percobaan metode SRI ini dapat anda pesan</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Caranya Sebagai Berikut:</span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;"> </span></p>
<p style="text-indent:-.25in;line-height:11.9pt;margin:0 0 0 .25in;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">1.<span style="font:7pt 'Times New Roman';"> </span></span><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Pesan ke email : hatta_ksg@yahoo.com atau <a href="mailto:hatta2ksg@gmail.com">hatta2ksg@gmail.com</a> atau ke HP: 081360016837</span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">2.   Kirim donasi anda minimum Rp 50.000,- ke rekening  No : 1050095020990   Bank Mandiri<br />
3.   Konfirmasikan kiriman anda ke No. Hp 081360016837</span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><em><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Selain artikel ini, anda diperkenankan memilih bonus 2 buah artikel lainnya dari blog ini atau blog: hatta2fp.wordpress</span></em></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;"> </span></p>
<p style="line-height:11.9pt;margin:0;"><span style="font-size:8pt;font-family:Arial,sans-serif;">Artikel akan segera dikirim ke alamat email anda<br />
Catatan: pengiriman hanya dengan email</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/emhatta.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/emhatta.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emhatta.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emhatta.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emhatta.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emhatta.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emhatta.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emhatta.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emhatta.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emhatta.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emhatta.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emhatta.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emhatta.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emhatta.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emhatta.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emhatta.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emhatta.wordpress.com&amp;blog=4139957&amp;post=4&amp;subd=emhatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emhatta.wordpress.com/2008/08/06/rencana-penanaman-padi-sri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9bcd6538340a9cb4d187ac4f8d20ba4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emhatta</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://emhatta.wordpress.com/2008/07/04/hello-world/</link>
		<comments>http://emhatta.wordpress.com/2008/07/04/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 09:06:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Hatta</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emhatta.wordpress.com&amp;blog=4139957&amp;post=1&amp;subd=emhatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/emhatta.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/emhatta.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/emhatta.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/emhatta.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/emhatta.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/emhatta.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/emhatta.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/emhatta.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/emhatta.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/emhatta.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/emhatta.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/emhatta.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/emhatta.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/emhatta.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/emhatta.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/emhatta.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=emhatta.wordpress.com&amp;blog=4139957&amp;post=1&amp;subd=emhatta&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://emhatta.wordpress.com/2008/07/04/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c9bcd6538340a9cb4d187ac4f8d20ba4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">emhatta</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
